Mataram (Suara NTB) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTB mengatensi peristiwa robohnya dua kelas di SMAN 7 Mataram, Selasa (19/5). Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga diminta mengevaluasi seluruh bangunan sekolah di NTB, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Anggota Komisi V DPRD NTB, Didi Sumardi, ditemui Selasa, (19/5), mengatakan, kejadian yang menimpa SMAN 7 Mataram tersebut perlu menjadi evaluasi dan refleksi serius Disdikpora NTB. Setiap bangunan sekolah harus harus mendapat perhatian untuk memberi rasa aman bagi siswa dan guru di sekolah.
“Terkait dengan perhatian ke depan, ini juga menjadi refleksi bagi Kadispora khususnya, untuk bagaimana mengevaluasi secara menyeluruh bangunan seluruh sekolah SMA, SMK, SLB. Khususnya adalah bangunan-bangunan yang sudah memiliki usia yang cukup lama, atau bangunan lama,” ujarnya.
Sebagai contoh adalah beberapa bangunan milik SMAN 7 Mataram yang diketahui telah berumur 20 tahun. Bangunan yang terdiri dari dua kelas itu akhirnya, roboh pada Selasa (19/5) siang tepatnya pukul 12.30 WITA, setelah puluhan tahun berdiri.
Peristiwa tersebut mengakibatkan lima siswa yang tengah beristirahat di dalam kelas menjadi korban. Beruntung, empat diantaranya tidak terluka serius dan hanya mengalami syok. Sementara satu lagi dilarikan ke rumah sakit dan tengah menjalani perawatan.
Didi menekankan agar semua bangunan sekolah di NTB, khususnya yang telah berumur dievaluasi dan dicek kondisinya.
“Ini menjadi concern Pak Kadispora dengan Pak Kadis PUPR, untuk bagaimana melakukan evaluasi terhadap keseluruhan kondisi gedung. Ini pembelajaran bagi kita tentu, ya untuk ke depannya jangan pernah terjadi. Insyaallah harus kita cegah,” tegasnya.
Di sisi lain, politisi Partai Golkar itu juga meminta semua pihak memberi perhatiaan kepada korban robohnya dua kelas milik SMAN 7 Mataram. Ia berharap, korban dapat segera sembuh dan tidak mengalami luka yang serius.
“Saya kira ini terus dikawal untuk memastikan, mudah-mudahan dalam waktu cepat bisa pulih. Harapan kita begitu dan observasinya juga menunjukkan hasil yang clear, yang tidak mengalami kategori luka yang serius, dan bisa bisa segera pulang,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Disdikpora NTB, Syamsul Hadi meminta seluruh kepala sekolah jenjang SMA/sederajat di NTB, mengecek bangunan dan kualitas infrastruktur sekolah masing-masing, guna menghindari kejadian yang dialami SMAN 7 Mataram tidak terulang lagi.
“Kepsek SMA untuk mengecek kondisi bangunan, antisipasi tidak terjadi lagi hal serupa,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut atas peristiwa yang menimpa SMAN 7 Mataram, Syamsul telah mengusulkan dua kelas tersebut mendapat perbaikan melalui program revitalisasi. Disdikpora NTB telah membangun komunikasi dengan Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemendikdasmen, agar SMAN 7 Mataram mendapat bantuan perbaikan.
Syamsul juga telah meminta pihak SMAN 7 Mataram untuk menyiapkan sejumlah persyaratan administratif sebagai syarat pengajuan.
“Saya juga mencoba nanti berkomunikasi dengan pusat supaya ini jadi prioritas (revitalisasi),” tuturnya.
Selain itu, Syamsul juga telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk melakukan asesmen terhadap bangunan-bangunan lain di sekolah tersebut. “Sebenarnya dari sini tidak kelihatan, tapi kita untuk memitigasi risiko, PU segera melakukan asesmen terkait dengan bangunan ini. Itu yang dikhawatirkan jangan sampai terjadi lagi,” pungkasnya. (sib)


