Mataram (Suara NTB) – Kepala Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan II Surabaya, Bambang S. Hidayat, memastikan kondisi perbankan di Nusa Tenggara Barat hingga saat ini masih aman dan stabil. LPS bahkan menegaskan tidak ada bank di NTB yang dalam kondisi mengkhawatirkan atau berpotensi diserahkan ke LPS untuk penanganan.
“Alhamdulillah sampai hari ini NTB masih sangat aman. Tidak ada bank yang dibisikkan ke saya akan diserahkan ke LPS dalam waktu dekat,” ujar Bambang, pada kegiatan Dalam pertemuan Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) NTB di Mataram, Jumat, 29 Mei 2026.
Secara nasional, Bambang mengungkapkan hingga Mei 2026 sudah terdapat tujuh bank yang dilikuidasi LPS. Sementara sejak 2005 hingga 2025 total bank yang telah dilikuidasi mencapai 147 bank, sehingga keseluruhannya kini mencapai 154 bank.
Meski demikian, NTB termasuk daerah yang dinilai masih bersih dari persoalan perbankan.
“NTB masih clean and clear, belum ada isu terkait perbankan. Kita berharap kondisi ini terus terjaga di tengah dinamika ekonomi yang ada,” tambahnya.
Menurutnya, meskipun terdapat dinamika ekonomi dan peningkatan konsumsi masyarakat pada awal 2026 akibat momentum hari raya, kondisi perbankan tetap berada dalam situasi yang sehat. Ia menjelaskan, pada triwulan awal tahun memang terjadi peningkatan belanja masyarakat karena bertepatan dengan Ramadan, Idulfitri, dan sejumlah momentum hari besar lainnya.
“Memang seasonal-nya masyarakat sedang banyak spending atau konsumsi. Tapi kalau melihat data perbankan, kondisinya masih sangat positif,” katanya.
Bambang mengungkapkan, salah satu indikator yang menunjukkan optimisme masyarakat adalah meningkatnya Indeks Menabung Konsumen yang dirilis LPS. Pada April 2026, indeks tersebut naik 0,2 poin menjadi 79,7 dibanding bulan sebelumnya.
Kenaikan itu terutama ditopang meningkatnya indeks kemampuan menabung masyarakat. Menurut Bambang, semakin banyak masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki tabungan kini mulai mampu menyisihkan pendapatannya untuk menabung.
“Ini kabar baik. Ada masyarakat yang sebelumnya tidak pernah menabung, sekarang mulai menabung. Artinya kemampuan finansial masyarakat masih cukup baik,” ujarnya.
Meski demikian, indeks kemauan menabung tercatat sedikit menurun karena sebagian masyarakat menilai saat ini bukan waktu yang tepat untuk menabung. Kondisi itu dinilai wajar karena tingginya kebutuhan konsumsi pada musim libur dan hari raya.
Di NTB sendiri, jumlah rekening bank hingga Maret 2026 tercatat mencapai sekitar 9,7 juta rekening dengan nominal simpanan sekitar Rp47,3 triliun. Secara tahunan, jumlah rekening masih tumbuh 4,32 persen dan nominal simpanan tumbuh 4,38 persen.
Bambang menjelaskan, sedikit penurunan jumlah rekening pada Maret disebabkan proses pembersihan data atau cleansing yang dilakukan perbankan, termasuk penertiban rekening ganda maupun data nasabah yang tidak aktif.
“Kalau secara nominal simpanan memang ada sedikit penurunan karena faktor seasonal tadi, tapi secara umum masih tumbuh positif,” katanya.
LPS juga mencatat cakupan penjaminan simpanan di NTB berada di atas rata-rata nasional. Sebanyak 99,99 persen rekening nasabah di NTB dijamin penuh oleh LPS, lebih tinggi dibanding cakupan nasional sebesar 99,94 persen.
“Artinya hampir seluruh rekening masyarakat di NTB dijamin oleh LPS,” tegasnya. (bul)


