Giri Menang (Suara NTB) – Kegiatan Car Free Night (CFN) dan Car Free Day (CFD) yang rutin diadakan tiap akhir pekan di Alun-alun Giri Menang Park (GMP) Kota Gerung Lombok Barat menjadi magnet bagi masyarakat. Tiap akhir pekan, masyarakat berjubel menikmati CFN ini.
Bagi pelaku UMKM, kegiatan ini sangat ditunggu-tunggu karena dirasakan mampu meningkatkan penghasilan Mereka. Banyak pelaku UMKM antre ingin berjualan di arena CFN tersebut.
Bupati Lobar H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ) mengatakan, CFN di Lobar telah mendapatkan HKI dari Kemenkum. Artinya legitimasi terhadap CFN sebagai inovasi Pemkab tidak perlu diragukan. “Festival CFN ini kegiatan rutin setiap akhir pekan dan terus isi dengan berbagai kegiatan,” kata Bupati LAZ, belum lama ini.
Sejak awal dimulai tahun 2025, secara konsisten pihaknya mengadakan CFN. Selama setahun di bawah kendali Pemkab, begitu tahun kedua (tahun 2026) CFN ini diadakan secara mandiri oleh pelaku UMKM melalui paguyuban. Terlebih lagi CFN ini bertambah ramai, karena pihaknya mengkombinasikan dengan ajang budaya peresean malam hari.
Dampaknya pun perekonomian masyarakat terus berputar dan penghasilan pedagang meningkat. “Baru pukul 22.00 Wita saja barang jualannya laku habis terjual. Itu artinya ekonomi berputar, dan saya data informasi dari asosiasi (paguyuban), daftar tunggu (ingin berjualan) UMKM masih banyak, karena tidak ada tempat,” imbuhnya.
CFN ini menurutnya menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat, kendati diawal ada saja pihak yang meragukan konsistensi Pemkab terhadap CFN ini. Melihat dampaknya yang begitu besar terhadap perputaran ekonomi masyarakat, Pihaknya pun berencana mengembangkan CFN ini ke wilayah Narmada dan Gunungsari secara bertahap.
Korlap Asosiasi UMKM Lobar, Lalu Puguh Mulawarman mengatakan selama setahun pelaksanaan CFN dan CFD pengaruhnya sangat besar pada perekonomian masyarakat. Keantusiasan warga yang berjualan begitu tinggi.
“Saat ini ada 257 pedagang yang berjualan, UMKM yang ada di sini,” terangnya.
Pedagang menjual mainan, kuliner, makanan, aksesoris hingga wahana bermain anak. Ditunjang oleh tingginya antusiasme warga yang berkunjung tiap akhir pekan CFN ini luar biasa, sehingga warga yang ingin berjualan pun kian tinggi.
“Saat ini saja terdapat 60 lebih daftar tunggu pedagang UMKM yang ingin masuk berjualan di sini, karena mereka merasa terbantu dengan adanya keramaian CFN ini. Omzetnya teman-teman pedagang ini lumayan sehingga mereka senang jualan di sini,” imbuhnya.
Omzet pedagang yang berjualan di CFN dan CFD ini masing-masing ada yang ratusan hingga jutaan rupiah, itu dari pedagang kecil hingga pedagang makanan.
Pedagang kecil, yang menjual pernak pernik mainan anak-anak bisa mendapat Rp150-200 ribu per malam, sedangkan pedagang kuliner makanan omzetnya mencapai di atas Rp1 juta-1,5 juta bahkan ada yang sampai Rp2 juta. Pedagang dan pengunjung CFN lebih besar dibanding CFD.
Para pedagang yang terlibat pun berasal dari wilayah Lobar, yang paling jauh dari Lingsar dan Gunungsari. Ada juga pedagang dari wilayah luar Lobar, Mereka tidak bisa dilarang berjualan sebab CFN ini bicara pasar. “Tetapi kita utamakan Lobar, terutama dari seputaran Gerung, sehingga pedagang lebih banyak dari Lobar,” ujarnya.
Dibanding di awal-awal CFN diadakan Pemkab sekitar bulan April tahun 2025 lalu, jumlah pedagang dan pengunjung tak sebanyak kali ini. Meskipun Pemkab melepas kegiatan ini untuk dikelola paguyuban, tetapi lebih tertata dan teratur. Terlebih dengan Alun-alun kota dan Taman Kota, dilengkapi fasilitas bermain anak, olahraga dan lainnya. Kawasan ini juga dilengkapi penerangan yang memadai, dan ajang seni budaya sehingga pengunjung beramai-ramai datang untuk bermalam Minggu. (her)


