BerandaNTBKOTA MATARAMLebih dari 1.000 Anak Masih Stunting, Dinkes Mataram Percepat Intervensi

Lebih dari 1.000 Anak Masih Stunting, Dinkes Mataram Percepat Intervensi

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram menargetkan prevalensi stunting turun hingga di bawah 5 persen pada tahun 2026. Target tersebut menjadi kelanjutan dari capaian penurunan angka stunting yang saat ini berada di kisaran 5,3 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, mengatakan pihaknya terus berupaya menekan angka stunting sesuai arahan Wali Kota Mataram. Meski target 5 persen pada 2025 belum tercapai secara penuh, tren penurunan kasus dinilai cukup positif.

“Pada prinsipnya kami terus berusaha menurunkan angka stunting. Tahun 2026 ini targetnya bisa berada di bawah 5 persen. Pokoknya kita kejar terus,” ujarnya, Rabu (11/6).

Menurut Emirald, data terbaru menunjukkan prevalensi stunting di Kota Mataram turun dari 5,5 persen menjadi 5,3 persen. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 1.000 anak yang masih mengalami stunting. Penurunan dilakukan melalui berbagai intervensi, terutama pada kelompok usia anak 3–5 tahun.

Ia menjelaskan, penanganan stunting membutuhkan waktu yang tidak singkat. Intervensi pada anak yang berusia di atas tiga tahun relatif lebih sulit karena kondisi kekurangan gizi kronis sudah berlangsung cukup lama.

“Kalau intervensi stunting biasanya membutuhkan waktu tiga sampai enam bulan sebelum hasilnya terlihat,” jelasnya.

Kasus stunting di Kota Mataram masih didominasi kelompok balita, mulai dari bayi baru lahir hingga usia lima tahun. Namun, hingga pertengahan tahun 2026, Dinkes Kota Mataram mengaku belum menemukan adanya kasus baru stunting.

Meski demikian, mempertahankan tren penurunan sekaligus menekan angka stunting lebih rendah lagi menjadi tantangan tersendiri. Untuk itu, Dinkes menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga kesehatan dan kader lapangan, agar upaya pencegahan dan penanganan dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau seluruh wilayah.

Selain itu, Dinkes juga memperluas akses layanan kesehatan bagi ibu hamil. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyediakan layanan ultrasonografi (USG) gratis di 11 puskesmas yang tersebar di Kota Mataram. Melalui layanan tersebut, kondisi kehamilan dapat dipantau sejak dini sehingga faktor risiko yang berpotensi menyebabkan stunting dapat segera ditangani.

Berdasarkan data terakhir pada Oktober 2025, prevalensi stunting di Kota Mataram tercatat sebesar 5,84 persen. Dengan capaian penurunan yang terus berlangsung hingga mencapai 5,3 persen, pemerintah daerah optimistis target penurunan stunting dapat terus direalisasikan pada tahun-tahun mendatang.

Pemkot Mataram bahkan menargetkan tidak ada kasus baru stunting yang muncul, sejalan dengan upaya mewujudkan generasi yang lebih sehat dan berkualitas. (pan)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO