Mataram (Suara NTB) – Stigma sekolah ‘favorit’ masih melekat di kalangan masyarakat. Persepsi ini menjadi acuan untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah tertentu. Sementara, sekolah yang dianggap pinggiran justru sepi peminat.
Eny, salah satu orang tua siswa yang menjadikan klasifikasi sekolah favorit dan tidak sebagai dasar untuk menentukan anaknya melanjutkan pendidikan di sekolah tertentu. Sebelum pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dimulai, ia sudah memetakan sekolah-sekolah yang dianggap pilihan di Mataram.
“Saya sendiri juga alumni tahun 1992 dulu. Jadi, tadinya anak saya ada beberapa alternatif yang saya sarankan antara SMP 2, SMP 6 atau SMP 1 Mataram,” ujarnya, Rabu (24/6).
Menurutnya, beberapa sekolah disebut merupakan sekolah yang paling menonjol di Kota Mataram dibandingkan sekolah yang lain. Dengan demikian, tak mengherankan jika orang tua memilih sekolah tersebut.
“Kalau untuk tingkat umum yang bisa kita lihat yang paling menonjol sekali terutama di media pasti SMP 2 dan SMP 6, baru SMP 1. Tapi, kalau tingkat MTs, ya pasti di MTs 1,” tuturnya.
Hal serupa diungkapkan Bernadus, salah satu orang tua yang mendaftarkan anaknya di SMPN 1 Mataram. Menurutnya, setiap orang tua ingin mencari sekolah terbaik untuk anaknya. “Menurut saya sebagai orang tua ini SMP (SMPN 1 Mataram,red) yang terbaik,” katanya.
Tak jauh berbeda dengan para orang tua, Ririn, calon siswa juga mengungkapkan alasannya memilih sekolah tertentu sebagai sekolah tujuan. “Kalau di sini yang paling favorit itu sih ada Spendu (SMPN 2), SMPN 1, SMP 6, sama SMP 15. Alasannya pilih SMPN 1 Mataram karena favorit,” akunya.
Selain dari pengakuan para orang tua dan calon siswa, kategorisasi terhadap sekolah tertentu dapat dilihat pada saat pendaftaran murid baru. Sekolah seperti SMPN 2 Mataram, SMPN 1 Mataram, SMPN 6 Mataram, dan SMPN 15 Mataram dipadati pendaftar. Pada hari pertama pendaftaran jalur prestasi dan afirmasi saja, SMPN 2 Mataram menerima antrean hingga 200 orang.
Sementara, suasana sebaliknya terjadi di sekolah yang dianggap pinggiran. Salah satunya SMPN 18 Mataram yang sampai hari ketiga pendaftaran jalur prestasi dan afirmasi baru menerima sembilan pendaftar. Kemudian, di SMPN 22 Mataram yang per hari ini baru menerima 30 calon siswa.
Sementara itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram menegaskan bahwa tidak ada lagi istilah sekolah favorit dan pinggiran. Semua sekolah saat ini memiliki kualitas yang sama dari fasilitas hingga guru. “Tidak ada sekolah favorit sekarang ini. Guru-guru yang bagus-bagus sudah kita sebarkan ke sekolah di luar kota,” ujar Kepala Disdik Kota Mataram, H. Yusuf.
Pemerataan guru berkualitas ini kata dia, merupakan upaya dinas pendidikan untuk memastikan semua sekolah memiliki kualitas yang sama. Dengan demikian istilah sekolah favorit dan pinggiran tidak akan menjadi persoalan ke depannya.
Pemerhati Pendidikan dari Universitas Mataram, Dr. Sirajul Hadi menegaskan bahwa stigmatisasi terhadap sekolah harus segera diakhiri. Pasalnya, setiap sekolah pada dasarnya memiliki potensi dan peluang yang sama untuk meningkatkan mutu pendidikan, agar menjadi sekolah yang diminati masyarakat. Namun, optimalisasi peluang tersebut sangat bergantung pada strategi sekolah dalam mengemas kelebihan, keunggulan, serta prestasi yang mereka miliki.
“Stigma dan label sekolah favorit harus dihilangkan dengan cara pemerataan mutu pendidikan pada aspek akademik dan non-akademik,” ujarnya, Rabu (24/6).
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa membangun sekolah yang berkualitas tidak bisa dilakukan dalam semalam. Oleh karena itu, ia terus mendorong pihak sekolah untuk konsisten memacu diri. “Menjadi maju dan berprestasi dan kemudian menjadi sekolah yang mendapat nama di masyarakat memang tidak Instan. Perlu komitmen dan proses, tetapi harus dilakukan,” terangnya.
Lebih lanjut, Sirajul memaparkan bahwa kemampuan penjenamaan (branding) sekolah merupakan salah satu faktor penentu di balik munculnya label favorit atau pinggiran. Artinya, selain fokus pada program yang bermutu, ikhtiar membangun citra yang baik di mata publik juga menjadi faktor krusial, agar sekolah dilirik oleh calon siswa.
Sebagai langkah konkret untuk mempercepat pemerataan ini, Sirajul mengusulkan adanya kebijakan rotasi tenaga pendidik dan kependidikan berprestasi ke sekolah-sekolah yang masih tertinggal.
“Kepala sekolah dan guru-guru yang hebat juga harus diberikan pengalaman di sekolah yang kurang bagus, sehingga bisa sharing (berbagi) pengalaman dengan sekolah lain, ada pengimbasan positif yang dapat diberikan ke sekolah lain,” tuturnya. (sib)

