Selong (Suara NTB) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selaparang di Kecamatan Suela, Lombok Timur (Lotim), hingga saat ini masih minim kunjungan pasien. Direktur RSUD Selaparang, Muhammad Azwardi, mengungkapkan bahwa rata-rata pasien rawat jalan hanya sekitar 15–20 orang per hari, sementara pasien rawat inap rata-rata 10 orang ke atas.
“Kita bukan rumah sakit rujukan dan masih kalah saing dengan puskemas. Kalau Puskemas kan punya BOK, kami tidak ada,” terangnya menjawab Suara NTB di kantornya, Sabtu (11/7/2026).
Kondisi ini dinilai wajar mengingat status RSUD Selaparang saat ini adalah rumah sakit tipe D pratama, yang secara regulasi masih setara dengan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan bukan rumah sakit rujukan.
Azwardi menjelaskan, RSUD Selaparang awalnya dirancang untuk mendukung sektor pariwisata di kawasan Sembalun. Anggaran pembangunannya bahkan berasal dari Kementerian Pariwisata.
“Setelah berdiri, rumah sakit ini awalnya memang untuk pariwisata. Karena anggarannya dari Kementerian Pariwisata,” ujar Azwardi. Semvalun diketahui merupakan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.
Dalam perjalanannya, rumah sakit ini melayani wisatawan yang mengalami kecelakaan lalu lintas di jalan menuju Sembalun, serta kejadian hipotermia akibat cuaca dingin di kawasan tersebut. Pelayanan kepada wisatawan diakui belum bisa maksimal. Apalagi untuk wisatawan asing. Acap kali wisatawan asing sudah membawa peralatan medis sendiri yang jauh lebih lengkap.
Saat ini, RSUD Selaparang telah menjalin kerja sama dengan Klinik Nusa Medica di Sembalun yang baru diresmikan Bupati Lotim beberapa waktu lalu. Klinik tersebut diketahui memang secara khusus akan melayani di bidang wisata. Namun untuk kerja sama lebih lanjut, pihak rumah sakit masih menunggu ketersediaan sumber daya manusia, terutama dokter spesialis bedah, penyakit dalam, dan penyakit anak.
Lebih jauh soal minimnya kunjungan pasien juga disebabkan oleh posisi RSUD Selaparang yang bukan rumah sakit rujukan. Azwardi mengakui bahwa rumah sakitnya harus bersaing dengan puskesmas di sekitar, seperti Puskesmas Suela, dan Puskesmas Karang Baru, serta klinik-klinik yang lokasinya lebih strategis.
“Pasien itu terhenti di puskesmas. Begitu ada kasus yang memerlukan rujukan, tidak bisa dirujuk ke sini karena status kita masih FKTP. Rujukannya ke Selong, bukan ke sini,” jelasnya.
Letak RSUD Selaparang yang berada di pinggiran juga menjadi kendala tersendiri dalam menarik pasien. Meski demikian, RSUD Selaparang memiliki target naik kelas menjadi rumah sakit tipe D pada Januari 2027. Dengan kenaikan kelas tersebut, rumah sakit ini akan menjadi rumah sakit rujukan bagi delapan puskesmas di sekitarnya.
Saat ini, RSUD Selaparang memiliki 25 tempat tidur. Pemerintah daerah telah membantu penambahan 25 tempat tidur lagi melalui anggaran perubahan, sehingga total menjadi 50 tempat tidur sesuai syarat kenaikan kelas.
Azwardi menyebutkan bahwa saat ini rumah sakit baru memiliki satu orang dokter spesialis radiologi. Pihaknya masih kekurangan spesialis penyakit dalam dan spesialis anak. Upaya rekrutmen telah dilakukan melalui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk mencari lulusan spesialis yang bersedia bertugas di RSUD Selaparang.
“Kalau benar-benar sumber daya manusia yang empat spesialis ini ada, kita punya tujuh spesialis, kita bisa lari kencang,” pungkasnya.
Siapkan Insentif Rp20 Juta untuk Spesialis
Guna memancing minat dokter spesialis datang ke RSUD Selaparang, jajaran Direksi ini menyiapkan insentif cukup besar hingga Rp20 juta per bulan. Sebagai rumah sakit Tipe D yang baru menyandang status sebagai Badan Layanan Umum Milik Daerah (BLUD) dipastikan sudah menjalin kerja sama dengan Badan Penyelengara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Meski tergolong rumah sakit tipe kecil, namun pendapatan perbulan dari klaim BPJS Kesehatan tembus Rp50-60 juta per bulan.
Diyakini, jika sudah statusnya sebagai rumah sakit rujukan maka akan semakin banyak pasien yang datang berobat. Layanan rumah sakit juga dipastikan akan lebih baik seiring dengan penambahan dokter spesialis dan peralatan medis lainnya. Bahkan khusus kendaraan ambulans, RSUD Selaparang ini menjadi satu-satunya rumah sakit yang memiliki kendaraan dengan fasilitas terlengkap. “Ambulans Hiace yang kita punya itu lebih dari Rp1 miliar harganya karena ada peralatan lengkap di dalamnya, nakes bisa melakukan pertolongan medis langsung di dalam ambulans teraebut,” tuturnya.
Mengingat letaknya yang sangat strategis dan masih banyak lahan kosong serta tidak jauh dari lokasi objek wisata yang bisa menjadi tempat healing, Direktur RSUD Selaparang ini mendorong perubahan status rumah sakit yang dipimpinnya itu menjadi rumah sakit jiwa.
Selama ini diketahui rumah sakit jiwa hanya ada di Mataram. Lotim dengan jumlah penduduk terbanyak mencapai 1,45 juta jiwa ini diketahui memiliki banyak problematika sosial dan kesehatan warganya. Apalagi terlihat saat ini banyak orang yang kurang sehat secara mental berlkeliaran di pinggir jalan.
Diyakini, ketika berubah status menjadi rumah sakit jiwa maka akan bisa menjadi rumah sakit rujukan dari pulau Sumbawa. Perubahan status ini juga akan memiliki dampak besar bagi pembangunan di daerah Lotim. (rus)

