BerandaNTBLOMBOK TIMURMenyulap Limbah Jadi Berkah: PKM Universitas Hamzanwadi Hadirkan Revolusi Organik di Desa...

Menyulap Limbah Jadi Berkah: PKM Universitas Hamzanwadi Hadirkan Revolusi Organik di Desa Pandan Wangi

DI balik hamparan biru selat Lombok yang membentang di pesisir timur Pulau Lombok, terdapat denyut kehidupan yang selama ini tersembunyi. Desa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru, menyimpan dua potensi besar yang nyaris terabaikan: tumpukan limbah rumput laut hasil panen melimpah, dan umbi gadung yang tumbuh liar di ladang-ladang kering. Namun, apa jadinya jika dua sumber daya yang dianggap “sisa” ini justru menjadi kunci kebangkitan pertanian organik?

Jawabannya mulai terungkap di sebuah balai desa sederhana pada pertengahan pekan ini. Di sana, Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Hamzanwadi yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menggelar sosialisasi yang mengubah cara pandang warga. Bukan sekadar ceramah, ini adalah awal dari revolusi kecil: mengubah limbah menjadi pupuk, dan racun menjadi ramah lingkungan.

Suara lantang Zaotul Wardi, M.Pd., Ketua Tim PKM Universitas Hamzanwadi, menggema di antara puluhan pasang mata yang menyimak dengan seksama. Di hadapannya duduk para petani tangguh dari Kelompok Tani Patuh Angen dan Sari Tani, mahasiswa KKN yang berseragam, serta remaja-remaja masjid Dusun Temorak yang membawa semangat pembaruan.

“Ini bukan sekadar kegiatan akademis,” tegas Zaotul. “Ini adalah gerakan. Desa Pandan Wangi punya rumput laut yang melimpah dan umbi gadung yang selama ini belum tergarap maksimal. Kita akan buktikan bahwa limbah punya nilai ekonomi, dan alam sudah menyediakan solusi untuk masalah kita sendiri.”

Dari tangan para dosen dan mahasiswa, dua inovasi diperkenalkan: Pupuk Organik Cair (POC) berbahan limbah rumput laut, dan Insektisida Hayati dari umbi gadung. Dua produk yang diyakini mampu menekan ketergantungan petani pada pupuk kimia dan pestisida sintetis yang mahal serta merusak ekosistem.

Pada sesi pertama, narasumber memaparkan secara detail proses fermentasi limbah rumput laut. Peserta terlihat terpukau saat mengetahui bahwa sisa panen yang selama ini hanya dibuang atau dibiarkan membusuk, ternyata kaya akan nutrisi yang dapat menyuburkan tanah.

“Ini bukan sekadar pupuk. Ini adalah cara kita mengembalikan nyawa pada tanah yang sudah ‘lelah’ karena terlalu banyak bahan kimia,” jelas pemateri di hadapan peserta yang antusias.

Tak kalah menarik, sesi kedua mengupas tuntas keajaiban umbi gadung. Senyawa bioaktif dalam umbi yang selama ini dianggap beracun itu, jika diolah dengan benar, berubah menjadi senjata ampuh melawan hama tanaman. “Kita tidak membunuh hama dengan racun, tapi dengan kearifan alam. Insektisida nabati ini aman bagi lingkungan dan kesehatan kita,” tambahnya.

Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung lebih dari dua jam. Pertanyaan mengalir deras: bagaimana teknik fermentasi yang tepat? apakah efektivitasnya sebanding dengan pupuk kimia? bagaimana keamanan insektisida hayati? bahkan, beberapa peserta mulai bertanya tentang peluang usaha. Pertanda bahwa benih perubahan telah tersemai.

Suhardi, Ketua Kelompok Tani Patuh Angen, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Ini jawaban atas kegelisahan kami selama ini. Kami tahu pupuk kimia mahal, tapi tidak punya pilihan. Sekarang kami punya alternatif dari bahan yang ada di sekitar kami. Kami siap belajar dan menerapkan,” katanya dengan mata berbinar.

Perwakilan Remaja Masjid Dusun Temorak juga angkat bicara. “Kami generasi muda ingin terlibat. Ini bukan hanya soal pertanian, tapi juga peluang usaha. Kami bisa membuat produk sendiri, bukan hanya membeli. Ini kesempatan untuk membangun desa dari akar,” ucapnya.

Kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi satu arah. Di balik layar, para mahasiswa KKN Universitas Hamzanwadi telah dibekali secara khusus untuk menjadi agen transfer teknologi. Mereka akan terjun langsung mendampingi petani, dari proses produksi hingga uji coba di lahan.

“Mahasiswa bukan hanya peserta. Mereka adalah jembatan antara ilmu pengetahuan dan praktik lapangan. Dengan komunikasi partisipatif, kami ingin proses alih teknologi ini berjalan efektif dan berkelanjutan,” ujar Zaotul.

Mereka telah dibekali teknik produksi, metode pemberdayaan, hingga strategi pendampingan kelompok tani. Kini, mereka siap menjadi duta perubahan di kampung halaman kedua mereka.

Sosialisasi ini baru permulaan. Rangkaian program masih panjang: pelatihan praktik produksi, pembangunan demplot pertanian organik, hingga pendampingan kelembagaan. Targetnya mulia: menciptakan kemandirian kelompok tani dalam memproduksi sarana pertanian organik sendiri.

“Kami tidak ingin ini berhenti di sini. Kami ingin petani kita mandiri, tidak tergantung pada industri besar. Dengan bahan baku dari alam, dengan teknologi tepat guna, kita bisa mewujudkan pertanian berkelanjutan,” tandas Zaotul optimis.

Di bawah langit sore yang keemasan, di antara semilir angin pantai, lahirlah harapan baru di Desa Pandan Wangi. Sebuah model pemberdayaan yang menyatukan perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah desa, kelompok tani, mahasiswa, dan pemuda desa dalam satu tujuan: pertanian yang sehat, mandiri, dan sejahtera.

Tidak berlebihan jika ini adalah sejarah baru bagi pertanian organik di Lombok Timur. Dari limbah yang terabaikan, lahir berkah. Dari umbi yang dianggap beracun, muncul perlindungan. Dan dari sinergi yang terbangun, Desa Pandan Wangi berpotensi menjadi percontohan bagi desa-desa pesisir lainnya.

Pertanian berkelanjutan bukan lagi mimpi. Ia mulai berakar, perlahan tapi pasti, di tanah Pandan Wangi. Dan seperti halnya rumput laut yang tumbuh subur di laut selatan, semoga inovasi ini pun terus berkembang, memberi kehidupan bagi tanah, petani, dan generasi mendatang. (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO