Kota Bima (Suara NTB) – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kota Bima, belum kembali normal pasca distribusi makanan terhenti pasca libur sekolah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Suara NTB, tiga sekolah yang belum kembali menerima manfaat program tersebut. Yakni, Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tolobali Kota Bima, Madrasah Aliah Negeri 2 Kota Bima dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Kota Bima.
Salah satu sekolah yang terdampak adalah SMKN 2 Kota Bima. Kepala SMKN 2 Kota Bima, Fathur Rahman, S.T., M.M.Inov., mengatakan sekolahnya sudah lebih dari dua bulan tidak menerima distribusi MBG setelah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyedia sebelumnya menghentikan operasional.
“Kurang lebih dua bulan kami tidak jalan MBG, karena SPPG waktu itu terkena persoalan IPAL. Semenjak itu tidak ada lagi kelanjutannya,” ujarnya, Rabu (22/7).
Fathur menjelaskan, sebelum distribusi MBG terhenti, SMKN 2 Kota Bima menerima layanan MBG dari SPPG yang beroperasi di wilayah Mande. Operasional penyedia tersebut kemudian ditangguhkan akibat persoalan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Dampaknya, penyaluran makanan bergizi ke sekolah ikut terhenti. Sekolah sempat dialihkan ke penyedia lain, namun distribusi hanya berlangsung sekitar satu pekan sebelum kembali berhenti hingga memasuki awal semester baru.
Dikatakan,terhentinya distribusi MBG berdampak pada ratusan penerima manfaat di SMKN 2 Kota Bima. Pada kondisi normal, jumlah penerima mencapai sekitar 1.000 orang yang terdiri atas sekitar 850 siswa serta guru dan tenaga kependidikan. Namun, ketika siswa kelas XII menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL), penerima manfaat berkisar 700 orang.
“Kalau semester kemarin hanya sekitar 700 orang karena kelas tiga sedang PKL. Kalau seluruh siswa ditambah guru dan tenaga kependidikan, jumlah penerimanya sekitar 1.000 orang,” jelas Fathur.
Ditegaskan, tidak adanya kepastian distribusi MBG kembali berjalan sehingga diminta mencari penyedia baru. SMKN 2 Kota Bima kemudian mengakhiri kerja sama dengan penyedia sebelumnya dan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan SPPG di wilayah Monggonao.
“Aturannya memang tidak masalah kalau kami memutuskan bekerja sama dengan penyedia lain. Karena itu kami membuat MoU dengan MBG Menggonao,” katanya.
Menurut Fathur, pihak penyedia baru sempat menyampaikan akan mulai menyalurkan MBG pada 20 Juli. Namun hingga kini realisasi distribusi belum juga terlaksana.
Karena itu, pihak sekolah masih menunggu kepastian dari penyedia tersebut dalam beberapa hari ke depan. Jika belum juga beroperasi, sekolah akan kembali membuka komunikasi dengan penyedia MBG lain yang sebelumnya juga menawarkan kerja sama.
Hingga kini belum ada kepastian kapan distribusi MBG kembali berjalan di sekolah-sekolah yang terdampak. Jurnalis Suara NTB telah berupaya mengonfirmasi Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kota Bima, Eri Ulfah, terkait jumlah sekolah yang belum kembali menerima MBG, penyebab terhentinya distribusi, serta langkah yang disiapkan untuk memulihkan layanan. Namun, hingga berita ini ditulis yang bersangkutan belum memberikan tanggapan. (hir)

