BerandaBIMAEnam Terminal di Bima Butuh Perbaikan

Enam Terminal di Bima Butuh Perbaikan

Bima (Suara NTB) – Sejumlah enam terminal di Kabupaten Bima membutuhkan perbaikan dan peningkatan fasilitas. Namun, keterbatasan kemampuan keuangan daerah membuat pemerintah daerah belum dapat merealisasikan pemeliharaan maupun revitalisasi terminal.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bima, A. Rifai, mengatakan terdapat enam terminal yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten, yakni Terminal Tente, Bolo, Sanggar, Wera, Waworada, dan Sape. Sebagian besar berstatus Terminal Tipe C, sementara status Terminal Tente masih menunggu kepastian regulasi, apakah masuk kategori Tipe B atau Tipe C.

“Seluruh terminal itu membutuhkan perhatian. Kondisinya memang sudah memerlukan perbaikan,” ujarnya, Rabu (29/7).

Menurut Rifai, Terminal Tente menjadi prioritas utama karena merupakan pusat pergerakan penumpang, distribusi barang, dan aktivitas transportasi di Kabupaten Bima. Meski demikian, hingga kini berbagai fasilitas pendukung di terminal tersebut dinilai belum memadai.

“Terminal Tente menjadi yang paling utama diperbaiki karena merupakan pusat pergerakan orang, barang, dan jasa. Sudah seharusnya terminal ini memiliki kapasitas dan akses yang memadai,” katanya.

Ia menjelaskan, kondisi fisik Terminal Tente masih menyisakan sejumlah persoalan. Area parkir bus memerlukan pembenahan, beberapa titik masih tergenang saat hujan, kawasan terminal dipenuhi pedagang kaki lima, serta bangunan kantor pelayanan tidak lagi memenuhi standar.

“Kantor pelayanan terminal sudah tidak layak. Fasilitas pelayanan kepada masyarakat juga masih sangat terbatas sehingga perlu ditingkatkan,” ungkapnya.

Selain Terminal Tente, Terminal Sanggar juga membutuhkan penanganan karena sering tergenang ketika musim hujan sehingga kendaraan kesulitan memasuki kawasan terminal. Pihaknya berencana meningkatkan elevasi permukaan terminal sebagai solusi terhadap persoalan tersebut.

Sementara itu, Terminal Bolo menghadapi persoalan berbeda. Menurut Rifai, letak terminal yang bukan menjadi tujuan akhir perjalanan membuat banyak penumpang memilih menunggu kendaraan di tepi jalan daripada masuk ke area terminal.

“Idealnya terminal berada di titik akhir perjalanan. Di Bolo, sebagian besar kendaraan hanya melintas sehingga masyarakat lebih memilih menunggu di luar terminal,” jelasnya.

Meski kebutuhan perbaikan cukup mendesak, Rifai mengakui kondisi fiskal daerah belum memungkinkan untuk merealisasikan pembangunan dalam waktu dekat. Selama dua tahun terakhir, pemerintah daerah masih memprioritaskan penggunaan anggaran pada kebutuhan lain yang lebih mendesak.

“Kami sudah mengusulkan perbaikan untuk Terminal Tente, Terminal Sanggar, dan Terminal Sape. Namun, kondisi APBD yang masih terbatas membuat pelaksanaannya belum dapat dipastikan,” ujarnya.

Ia berharap kondisi keuangan daerah membaik sehingga peningkatan kualitas terminal dapat segera dilakukan. Menurutnya, keberadaan terminal yang representatif tidak hanya mendukung pelayanan transportasi, tetapi juga memperlancar mobilitas masyarakat serta distribusi barang di Kabupaten Bima. (hir)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO