BerandaNTBKOTA MATARAMEdukasi dan Skrining Diperluas, Dikes Catat 76 Kasus Baru HIV di Mataram

Edukasi dan Skrining Diperluas, Dikes Catat 76 Kasus Baru HIV di Mataram

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram memperkuat upaya promotif dan preventif untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS melalui edukasi kesehatan reproduksi, perluasan layanan skrining, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup sehat. Hingga Juli 2026, Dinkes mencatat sebanyak 76 kasus baru HIV di Kota Mataram.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi menyusul meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang dilaporkan menyerang berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, pelajar, hingga orang dewasa.

Kepala Dinkes Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, mengatakan pihaknya terus meningkatkan kewaspadaan menyusul adanya lonjakan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang dilaporkan menyerang berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, pelajar, hingga orang dewasa.

Menurutnya, setiap perkembangan kasus di daerah lain menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran bagi Kota Mataram untuk terus memperkuat strategi pencegahan.

“Apapun kasus yang terjadi di luar daerah menjadi pembelajaran bagi Kota Mataram untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan mengoptimalkan upaya pencegahan melalui kegiatan promotif dan preventif,” ujarnya, Jumat (31/7).

Sebagai bentuk pencegahan, Dinkes memperluas layanan skrining atau Voluntary Counseling and Testing (VCT), menghapus stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), serta terus mengampanyekan perilaku aman guna menekan laju penularan virus di masyarakat.

Berdasarkan data Dinkes Kota Mataram, selama periode Januari hingga Juli 2026 tercatat 76 kasus baru HIV. Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 kasus merupakan warga Kota Mataram, sedangkan sisanya berasal dari luar daerah yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Kota Mataram.

Dalam pelaksanaan program pencegahan, Dinkes berkolaborasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Mataram serta berbagai pemangku kepentingan. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui penjangkauan kelompok populasi kunci, peningkatan temuan kasus, hingga perluasan layanan skrining sebagai upaya deteksi dini.

Selain itu, Dinkes secara rutin melaksanakan penyuluhan ke sekolah-sekolah dengan memberikan edukasi kesehatan reproduksi kepada peserta didik berusia di atas 15 tahun. Program tersebut diperkuat melalui pelaksanaan Sekolah Sehat Jiwa, pengaktifan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), serta Program Dokter Kecil (Dokcil) sebagai media edukasi kesehatan sejak dini.

Dinkes bersama KPA Kota Mataram juga melakukan berbagai upaya pencegahan penularan HIV, termasuk memberikan edukasi mengenai penggunaan alat kontrasepsi yang aman sebagai bagian dari strategi pencegahan penyakit menular.

“Terlepas dari pro dan kontra mengenai hal tersebut, yang kami kedepankan saat ini adalah aspek pencegahan penyakit menular,” kata Emirald.

Di sisi lain, Dinkes juga terus memastikan ODHA memperoleh terapi Antiretroviral (ARV) secara berkelanjutan. Menurut Emirald, konsumsi ARV secara rutin mampu menekan jumlah virus di dalam tubuh hingga pada tingkat yang sangat rendah, sehingga risiko penularan kepada orang lain menjadi sangat kecil.

Obat ARV diberikan secara gratis melalui seluruh puskesmas di Kota Mataram dan dapat diakses dengan mudah oleh para penyandang HIV. Meski tidak dapat menyembuhkan HIV secara total, terapi ARV berfungsi menghambat perkembangan virus, menjaga sistem kekebalan tubuh, serta menurunkan risiko penularan.

Melalui berbagai langkah promotif, preventif, dan pengobatan tersebut, Dinkes Kota Mataram berharap angka penularan HIV/AIDS dapat terus ditekan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan perilaku hidup sehat dalam mencegah penyebaran penyakit. (pan)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO