Mataram (Suara NTB) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat GEMA MEDIKA Tahun 2026 melalui program Palang Merah Remaja (PMR) Emergency Response Training yang berlangsung di Aula Abdurrahim Unizar, Sabtu (1/8/2026) mulai pukul 08.00 Wita hingga selesai.
Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Milad ke-22 Fakultas Kedokteran Unizar dan diikuti oleh ratusan peserta dari SMA negeri dan swasta se-Kota Mataram. Pelatihan dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar penanganan kegawatdaruratan bagi anggota PMR sebagai garda terdepan pertolongan pertama di lingkungan sekolah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor Unizar, Wakil Rektor III Unizar, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dekan FK Unizar beserta para wakil dekan dan seluruh pejabat struktural, Ketua Ikatan Alumni FK Unizar beserta alumni, dosen FK Unizar, serta guru pendamping dari SMA/sederajat se-Kota Mataram.
27 Sekolah dan 135 Siswa Ikuti PMR Emergency Response Training
Ketua Panitia GEMA MEDIKA 2026, I Gede Angga Adnyana, SST., M.Imun., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat.
“Kegiatan ini diselenggarakan sebagai salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan bagian dari rangkaian Milad ke-22 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar sebagai bentuk komitmen fakultas untuk terus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan di bidang kesehatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peserta berasal dari berbagai SMA/sederajat di Kota Mataram dengan total 27 sekolah yang berpartisipasi, 135 siswa peserta, dan 27 guru pendamping.
Rangkaian kegiatan meliputi pre-test, penyampaian materi oleh narasumber, campus exposure Fakultas Kedokteran Unizar, hands-on training melalui tiga stasiun praktik, post-test, hingga penyerahan sertifikat kepada peserta.
Tiga stasiun praktik yang menjadi inti pelatihan adalah Bantuan Hidup Dasar (BHD), pembidaian, dan Manuver Heimlich.
“Para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga berlatih langsung agar memiliki pengalaman praktis dalam penanganan kegawatdaruratan dasar,” kata Angga.
Untuk mendukung kualitas pelatihan, panitia menghadirkan dua narasumber yang merupakan dosen Fakultas Kedokteran Unizar dan memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing, yaitu dr. Hj. Khairunnisai T., Sp.An-TI., Subsp.N.An.(K) untuk materi BHD dan Manuver Heimlich, serta dr. Henry Pebruanto, Sp.OT untuk materi pembidaian.
Dekan FK Unizar: Keterampilan Kegawatdaruratan Dapat Menyelamatkan Nyawa
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar, Prof. dr. Rosdiana Natzir, Ph.D., Sp.Biok, menegaskan bahwa PMR Emergency Response Training merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
“Sebagai institusi pendidikan kedokteran, kami tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga berkewajiban berbagi ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujar Prof. Rosdiana.

Prof. Rosdiana mengapresiasi semangat para peserta yang berasal dari berbagai SMA di Kota Mataram.
“Ilmu yang diperoleh hari ini diharapkan tidak hanya menjadi tambahan pengetahuan, tetapi juga menjadi bekal keterampilan yang kelak dapat menyelamatkan nyawa seseorang ketika menghadapi keadaan darurat,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Dekan FK Unizar juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi NTB, seluruh kepala sekolah, guru pendamping, narasumber, instruktur, alumni, dosen, mahasiswa fasilitator, serta panitia yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, sekolah, alumni, dan masyarakat dapat terus diperkuat untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus membentuk generasi muda yang peduli, sigap, dan mampu memberikan pertolongan pertama saat terjadi keadaan darurat.
Pemprov NTB Apresiasi Kontribusi FK Unizar dalam Edukasi Kesehatan
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dr. Syamsul Hadi, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Fakultas Kedokteran Unizar dalam meningkatkan kapasitas generasi muda melalui pendidikan kegawatdaruratan.
Oleh sebab itu, pelatihan seperti PMR Emergency Response Training dinilai sangat relevan dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan hidup (life skills) yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh sivitas akademika Universitas Islam Al-Azhar atas berbagai kontribusi yang telah diberikan,” ujarnya.
Selain membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan, kegiatan ini juga mampu menumbuhkan motivasi, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Saya meyakini kegiatan seperti ini tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi adik-adik sekalian dalam menentukan pilihan masa depan serta menumbuhkan semangat untuk terus berkarya dan mengabdi kepada masyarakat,” tambahnya.
Rektor Unizar: Kesiapsiagaan Bencana Menjadi Bekal Penting Generasi Muda
Rektor Universitas Islam Al-Azhar, Dr. Ir. Muh. Ansyar, M.P, menekankan bahwa kemampuan menangani kondisi darurat merupakan keterampilan yang harus dimiliki masyarakat, terutama generasi muda.
“Kemampuan penanganan kondisi darurat merupakan keterampilan yang sewaktu-waktu dapat kita butuhkan. Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana musibah atau bencana akan terjadi,” ujar Rektor.

Ia mengajak seluruh peserta memanfaatkan pelatihan tersebut secara maksimal karena kesempatan belajar langsung dari dokter spesialis dan tenaga medis berpengalaman merupakan pengalaman yang sangat berharga.
“Keterampilan yang adik-adik pelajari hari ini akan menjadi bekal yang sangat berharga dalam kehidupan di masa mendatang. Keterampilan seperti ini tidak hanya berguna di lingkungan sekolah atau kampus, tetapi juga dapat dimanfaatkan ketika berada di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Mengakhiri sambutannya, Rektor Unizar secara resmi membuka kegiatan GEMA MEDIKA 2026: PMR Emergency Response Training.
Peserta Dibekali Keterampilan Bantuan Hidup Dasar dan Penanganan Tersedak
Dalam pemaparannya, dr. Hj. Khairunnisai T., Sp.An-TI., Subsp.N.An.(K) menjelaskan bahwa henti jantung merupakan kondisi berhentinya aktivitas mekanis jantung secara mendadak yang ditandai dengan korban tidak sadar, tidak bernapas normal, dan tidak adanya sirkulasi darah. Kondisi tersebut dapat terjadi kapan saja dan di mana saja sehingga masyarakat umum, termasuk anggota PMR, memiliki peran penting sebagai penolong pertama sebelum tenaga medis tiba.
Ia menegaskan bahwa tindakan pada menit-menit pertama merupakan faktor yang sangat menentukan keselamatan korban. Bahkan, setiap keterlambatan satu menit dalam memberikan pertolongan dapat menurunkan peluang hidup korban secara signifikan.
Karena itu, peserta diajarkan mengenali tanda-tanda henti jantung, segera menghubungi layanan kegawatdaruratan 119, kemudian melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau kompresi dada sesuai prosedur yang benar hingga bantuan medis datang.
Tak kalah penting, dr. Khairunnisai juga memberikan edukasi mengenai penanganan korban tersedak.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat harus mampu membedakan kondisi tersedak ringan dan tersedak berat. Pada kasus tersedak berat, ketika korban sudah tidak mampu berbicara maupun bernapas, tindakan Manuver Heimlich (abdominal thrust) harus segera dilakukan untuk membantu mengeluarkan sumbatan pada saluran napas.
Praktik Pembidaian Bekali Peserta Menangani Dugaan Patah Tulang
Dalam pemaparannya, dr. Henry menjelaskan bahwa pembidaian merupakan salah satu keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh anggota PMR karena sering dijumpai pada berbagai kasus kecelakaan maupun cedera olahraga.
Ia menerangkan bahwa tujuan utama pembidaian adalah mencegah pergerakan tulang yang patah, mengurangi rasa nyeri, mencegah kerusakan jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf, serta mempermudah proses evakuasi korban menuju fasilitas pelayanan kesehatan.
dr. Henry juga mengingatkan agar penolong tidak memaksakan meluruskan tulang yang dicurigai mengalami patah karena tindakan tersebut justru berpotensi memperparah cedera.
“Keselamatan korban menjadi prioritas utama. Penolong harus menjaga agar bagian tubuh yang mengalami cedera tidak mengalami pergerakan berlebihan sebelum mendapatkan penanganan medis,” jelasnya.
Guru Pendamping Apresiasi Pelatihan Kegawatdaruratan FK Unizar
Sementara itu, Guru Pendamping PMR MAN 1 Mataram, Masjudin Yusi, mengapresiasi penyelenggaraan PMR Emergency Response Training yang dinilai memberikan manfaat besar bagi peserta didik maupun guru pendamping. Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi sarana yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam memberikan pertolongan pertama ketika menghadapi kondisi darurat.
“Menurut saya kegiatan ini sangat baik dan sangat bermanfaat. Terlebih lagi, kegiatan ini melibatkan anggota Palang Merah Remaja (PMR) dari berbagai sekolah. Materi yang diberikan, seperti Bantuan Hidup Dasar (BHD), pembidaian, dan Manuver Heimlich merupakan keterampilan dasar yang sangat penting dalam memberikan pertolongan pertama ketika terjadi kondisi darurat,” ujar Masjudin Yusi. (ron/*)

