Selong (Suara NTB) – Produktivitas bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), terus menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pada musim panen tahun ini, produktivitas bahkan mencapai hingga 26 ton per hektare, menjadi salah satu capaian tertinggi dalam pengembangan komoditas unggulan tersebut.
Namun, tingginya produksi belum sepenuhnya mendukung cita-cita menjadikan Sembalun sebagai sentra produksi benih bawang putih nasional. Sebagian besar hasil panen justru masih dijual untuk kebutuhan konsumsi karena harga pasar dinilai lebih menguntungkan dibandingkan untuk benih.
Bupati Lotim, H. Haerul Warisin, mengatakan keinginan mengembalikan kejayaan bawang putih Sembalun sebagai pusat produksi benih nasional sebenarnya telah diperjuangkan sejak dirinya menjabat sebagai Wakil Bupati pada periode 2013–2018.
“Saat ini petani banyak tergiur menjual untuk konsumsi karena memang harganya cukup bagus,” ujarnya saat menerima Direktur PT Suara NTB Pers I Gusti Agung Adisuarsana, Pemimpin Redaksi Harian Suara NTB dan SuaraNTB.Com Marham, Redaktur Muhammad Kasim dan tim di Pendopo Bupati Lotim, Rabu (5/8/2026).
Menurut Bupati, salah satu kendala utama yang membuat program tersebut belum optimal adalah belum tersedianya gudang penyimpanan benih yang representatif. Tanpa fasilitas penyimpanan, petani kesulitan mempertahankan hasil panen sebagai benih, sehingga lebih memilih menjualnya ke pasar konsumsi.
Ia menjelaskan, kebutuhan pembangunan gudang tersebut telah mendapat respons positif dari pemerintah pusat. Bahkan, rencana pembangunan gudang akan diawali dengan peletakan batu pertama yang dijadwalkan dihadiri langsung oleh Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo apabila seluruh proses administrasi telah rampung.
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur juga telah menyiapkan lahan milik daerah seluas sekitar 12 are sebagai lokasi awal pembangunan, sembari menuntaskan proses administrasi hibah lahan seluas 1 hektare yang nantinya diproyeksikan menjadi kawasan pergudangan benih bawang putih.
“Hadirnya gudang ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mengembangkan Sembalun sebagai sentra benih nasional. Kalau gudang sudah ada, petani tidak lagi khawatir menyimpan hasil panennya,” kata H. Iron menegaskan
Ia menilai pembangunan gudang merupakan kebutuhan mendesak seiring rencana perluasan areal tanam bawang putih. Saat ini luas tanam baru sekitar 300 hektare, jauh dari potensi yang dimiliki kawasan Sembalun. Padahal dari sisi potensi bisa mencapai 2 ribu hektare.
Menurutnya, tanpa gudang penyimpanan, program perluasan lahan tidak akan berjalan efektif karena hasil panen tidak memiliki tempat penyimpanan yang layak. Nilai pembangunan gudang diperkirakan mencapai lebih dari Rp5 miliar dan masih memerlukan pengembangan sesuai kebutuhan produksi.
Di sisi lain, harga bawang putih konsumsi yang saat ini mencapai sekitar Rp14.000 per kilogram membuat petani semakin tertarik menjual hasil panen ke pasar. Padahal, pemerintah berharap hasil panen dari program pengembangan tersebut lebih diarahkan menjadi benih untuk mendukung swasembada bawang putih nasional.
Bupati juga mengakui masih adanya trauma petani akibat pengalaman pada 2007–2008 ketika hasil panen bawang putih sulit dipasarkan sehingga banyak petani merugi. Karena itu, pemerintah ingin mengembalikan kepercayaan petani melalui pembangunan infrastruktur pendukung dan kepastian penyerapan hasil panen.
“Kita jangan lagi mengecewakan petani Sembalun. Kalau gudang sudah terbangun dan pemerintah hadir mengawal hasil panen mereka, saya yakin cita-cita menjadikan Sembalun sebagai sentra produksi bibit bawang putih nasional akan benar-benar terwujud,” demikian tegasnya. (rus)

