Giri Menang (Suara NTB) – Kondisi lima ruangan kelas SMKN 1 Gerung Lombok Barat sangat mengkhawatirkan, lantaran mengalami kerusakan dengan kategori rusak berat. Guru dan siswa pun setiap hari was-was dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Selain lima ruangan rusak parah, sekolah di tengah ibu kota Lombok Barat itu juga mengalami kekurangan 16 ruang atau Ruang Kelas Baru (RKB), sehingga sebagian siswa belajar di ruangan darurat.
Kepala SMKN 1 Gerung, Hj. Erni Zuhara, M.Pd., mengatakan bangunan ruangan sekolahnya masuk kategori rusak berat dan rusak sedang. Hal ini sesuai dengan hasil penilaian dari tim konsultan yang diminta bantuan pihaknya untuk menilai bangunan sekolah itu.
“Sudah ada hasil analisisnya, masuk kategori rusak berat dan ringan. Dan sudah diverifikasi oleh tim PUPR Lobar,” terang Erni ditemui Sabtu (8/8/2026).
Dari hasil analisis yang dilakukan tim konsultan, terdapat lima ruangan kelas di SMKN 1 Gerung rusak berat. “Ini cukup mengkhawatirkan kami untuk keselamatan anak-anak dan guru dalam belajar sehari-hari,” kata dia.
Sementara jika pihaknya mengeluarkan atau mengevakuasi siswa, kendalanya tidak ada lagi tempat belajar.
Untuk itu, hasil analisis dan verifikasi ini pun akan disampaikan pihaknya kepada Dinas PUPR Provinsi NTB untuk meminta bantuan memvalidasi data tingkat kerusakaan sekolah ini. Sebab berkaca dari pengalaman di sekolah lain, seperti SMAN 1 Gunungsari tim PUPR turun dari mengecek ke sekolah itu. Pihaknya juga berharap PUPR, turun juga ke sekolahnya untuk memvalidasi tingkat kerusakannya. “Kami berharap tim PUPR juga turun ke sekolah kami,” harap dia.
Selain kondisi bangunan rusak berat, pihaknya juga mengalami kendala daya dukung, karena kekurangan 16 ruangan. Bahkan untuk menyiasati kekurangan ruangan itu, pihaknya terpaksa menggunakan kelas darurat untuk kegiatan belajar siswa. Terdapat dua rombongan belajar (rombel) siswa yang saat ini belajar di ruangan darurat. Sedangkan kelas yang lain menggunakan halaman, di bawah pohon, panggung, dan lainnya.
“Saat ini kondisi sekolah kami sudah memiliki 33 rombel, untuk mengakomodir hampir 1.100 siswa,” ujarnya.
Untungnya juga, kata dia, saat ini anak-anak kelas XII sedang PKL selama enam bulan, sehingga masih ada 22 Rombel yang masih belajar di sekolah. Secara keseluruhan sekolah itu kekurangan 16 ruangan. Dan dengan posisi sekarang, terdapat 17 ruang kelas sehingga kekurangan lima kelas. Karana ada 11 kelas anak yang PKL.
“Kalau lima kelas yang rusak berat ini misalkan disterilkan, maka ada 10 Rombel yang tidak bisa diakomodir,” ujarnya.
Pihaknya sendiri sudah mengusulkan penambahan ruang kelas ke Pemprov, namun belum direalisasikan. Pihaknya berharap agar penambahan ruang kelas ini direalisasikan, sesuai dengan standar Nasional pendidikan. Artinya 33 Rombel, maka harus ada 33 ruang kelas yang harus disediakan. (her)

