Tanjung (Suara NTB) – Persaingan moda transportasi di Gili Trawangan, Lombok Utara, mulai berubah. Cidomo yang selama ini menjadi kearifan lokal angkutan khas gili tersohor ini, kini harus berhadapan dengan semakin banyaknya kendaraan listrik yang masuk di pulau bebas emisi gas buang ini.
Bagi kusir cidomo, kehadiran kendaraan listrik bukan sekadar perubahan moda transportasi. Mereka merasakan langsung dampaknya terhadap pendapatan.
Salah seorang kusir cidomo di Gili Trawangan menuturkan, kondisi paling terasa ketika musim kunjungan ramai. Dalam sehari, pendapatan kusir memang bisa mencapai sekitar Rp2 juta. Namun angka itu tidak selalu didapat karena sangat bergantung pada jumlah wisatawan dan persaingan di lapangan.
“Kalau ramai bisa Rp2 juta,” ujarnya, Senin, 10 Agustus 2026.
Ia mengatakan, jumlah cidomo yang beroperasi di Gili Trawangan saat ini tak sampai 50 unit unit. Di sisi lain, kendaraan listrik yang disewakan kepada wisatawan terus menjamur. Tarif sewa sepeda motor listrik disebut berada di kisaran Rp250 ribu per hari. Bahkan, jumlahnya diperkirakan mencapai 250 hingga 300 unit saat ini.
Kondisi ini membuat cidomo kehilangan sebagian pasar. Wisatawan yang sebelumnya mengandalkan cidomo untuk berkeliling pulau kini memiliki pilihan kendaraan yang lebih praktis dan bisa digunakan sendiri.
Menurut kusir ini, dampaknya semakin terasa dibandingkan beberapa tahun lalu. Jarak perjalanan yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan kini semakin pendek karena wisatawan memilih menggunakan kendaraan listrik.
“Dulu kalau musim ramai dapat. Sekarang Rp500 ribu saja susah dapat kerja,” keluhnya.
Para kusir juga mempersoalkan keberadaan sepeda motor listrik yang dinilai terus bertambah tanpa kejelasan pengaturan dan perizinan.
Mereka mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa pemilik kendaraan-kendaraan tersebut. Sebagian disebut menggunakan nama warga lokal, tetapi diduga ada pula modal dari luar daerah.
“Ada orang sini sebagian, tapi ada yang pakai nama orang sini, tapi dari orang luar,” ujarnya.
Kusir mempertanyakan mengapa kendaraan listrik bisa terus masuk dan beroperasi, sementara cidomo yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan Gili Trawangan justru menghadapi banyak pembatasan.
“Belum ada izin, tapi tiba-tiba masuk begitu saja,” pengakuannya.
Persoalan lain adalah aktivitas sepeda motor listrik yang berlangsung hingga malam. Menurutnya, kendaraan tersebut bisa didatangkan dari daratan dan digunakan wisatawan berhari-hari.
“Setiap malam 10-15 motor masuk ke gili,” ungkapnya.
Ia menilai pengawasan terhadap kendaraan listrik dan cidomo seharusnya dilakukan secara adil. Jangan sampai hanya cidomo yang mendapat sorotan, sementara jumlah kendaraan listrik terus bertambah.
“Yang disorot cuma cidomo saja masuk, tapi sepeda motornya tadi tidak disorot,” katanya.
Di tengah persaingan itu, kusir cidomo juga mengungkap besarnya investasi untuk bisa memiliki dan mengoperasikan cidomo di Gili Trawangan.
Menurut dia, nilai kepemilikan cidomo beserta berbagai kebutuhan dan perizinannya kini bisa mencapai sekitar Rp1 miliar. Angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan biaya yang harus ditanggung karena masih ada kebutuhan membeli dan merawat kuda. (bul)

