Produksi Sampah di Gili Trawangan Capai 22 Ton Sehari
Tanjung (Suara NTB) – Gili Trawangan menghadapi persoalan serius pengelolaan sampah. Saat musim ramai wisatawan, produksi sampah di pulau wisata unggulan di Lombok Utara ini mencapai sekitar 22 ton per hari. Sementara kapasitas mesin pengolahan yang tersedia jauh di bawah volume sampah yang masuk.
Pengelola Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Gili Trawangan, Cahyo Kurniawan, Senin, 10 Agustus 2026 menyebut kapasitas pengolahan yang tersedia saat ini hanya sekitar 4-5 ton sampah per hari untuk satu unit mesin. Akibatnya, sebagian besar sampah masih harus ditampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Kalau sampah ini rata-rata saat high season kurang lebih 22 ton per hari,” ujarnya.
Kesenjangan antara sampah yang masuk dan kemampuan mesin mengolah menjadi persoalan utama.
Jika kapasitas pengolahan hanya sekitar 4 ton per hari, sementara sampah mencapai 22 ton, maka ada sekitar 18 ton sampah per hari yang belum tertangani.
Kondisi ini dinilai semakin berat karena aktivitas pariwisata di Gili Trawangan terus berkembang. Jumlah wisatawan, penduduk, bangunan, serta kegiatan ekonomi meningkat dibandingkan satu dekade lalu.
“Dulu sampahnya tidak seperti ini. Belum banyak bangunan, belum banyak wisatawan masuk, belum banyak penduduk. Sekarang sudah tidak bisa,” katanya.
Di lokasi pengelolaan sampah ini, terdapat tiga unit mesin bantuan Kementerian Kelautan Perikanan. Namun, tidak seluruhnya dapat digunakan.
Dua mesin buatan dalam negeri sebelumnya sempat diuji coba sekitar 15 hari. Pengoperasiannya kemudian dihentikan karena hasil uji emisi menunjukkan persoalan serius. Operasional dua unit mesin ini menimbulkan asap hitam pekat yang sangat mengganggu wisatawan dan keseimbangan udara di destinasi wisata strategis nasional ini.
“Asapnya sangat pekat, sangat hitam. Makanya dua mesin ini distop operasionalnya,” jelasnya.
Sementara satu mesin lainnya, yang dibuat oleh produsen asal Korea Selatan, saat ini masih menjadi mesin yang dapat dioperasikan saat ini. mesin ini juga sama dengan dua unit yang dioperasikan Pemkot Mataram untuk mengurai persoalan sampah kota.
Mesin produksi Park Pyro ini dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki sistem operasi yang berbeda. Mesin membutuhkan gas sebagai pemicu awal dan listrik untuk mendukung operasional awal saat mesin dinyalakan.
Cahyo menyebut persoalan sampah di Gili Trawangan bukan masalah baru. Kondisi darurat sampah telah dirasakan sejak 2017 dan hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Jika sampah tidak segera dikendalikan, konsekuensinya bukan hanya penumpukan. Sampah berpotensi dibuang sembarangan hingga memicu kebakaran.
“Sejak 2017 sudah darurat sampah sampai sekarang. Kami berusaha bagaimana meminimalisir, bagaimana mengendalikan sampah ini,” ujarnya.
Kondisi ini menurutnya membutuhkan intervensi lebih serius dari pemerintah, terutama karena persoalan sampah di pulau wisata tidak bisa disamakan dengan pengelolaan sampah di daratan.
Salah satu opsi yang pernah dibicarakan adalah membawa sampah dari Gili Trawangan ke daratan Lombok setelah melalui proses pemilahan.
Namun, solusi itu membutuhkan biaya dan rantai operasional yang panjang. Sampah harus diangkut menggunakan kapal, kemudian dipindahkan menggunakan kendaraan di daratan dan kembali dibawa ke fasilitas pengolahan. (bul)

