PEMERINTAH Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mulai mempersiapkan perayaan Hari Jadi Kabupaten Lotim yang pada tahun 2026 ini ditetapkan memasuki usia ke-131 tahun. Perayaan tersebut akan digelar setiap 31 Agustus, berdasarkan penetapan wilayah pemerintahan Lotim pada masa Hindia Belanda.
Bupati Lotim, H. Haerul Warisin, mengatakan penetapan Hari Jadi Lotim tersebut penting untuk memperjelas sejarah daerah sekaligus mengenalkannya kepada generasi mendatang.
Ia mengaku kerap mendapat pertanyaan dari sejumlah kepala daerah mengenai kepastian sejarah dan hari jadi Kabupaten Lotim. Bahkan, menurutnya, ada daerah lain yang mempertanyakan apakah Lotim memiliki dasar sejarah yang jelas sebagai sebuah daerah.
“Saya sering ditanya oleh bupati daerah lain. Lotim ditanyakan tidak punya hari lahir, bahkan disebut abal-abal,” seloroh Haerul Warisin.
Menurutnya, pemerintah daerah saat ini tengah mempelajari berbagai dokumen sejarah, termasuk Staatblad peninggalan pemerintahan Hindia Belanda yang dinilai memiliki dasar paling jelas terkait penetapan wilayah Lotim.
Berdasarkan Staatblad Nomor 181 Tahun 1895, penetapan wilayah pemerintahan tersebut terjadi pada 31 Agustus 1895. Dengan demikian, pada 2026 Kabupaten Lotim genap berusia 131 tahun jika perhitungan hari jadi menggunakan dasar tersebut.
Sementara berdasarkan pembentukan Daerah Swatantra Tingkat II melalui Undang-Undang Nomor 64 dan 69 Tahun 1958, Lotim berusia 68 tahun pada 2026.
H. Iron – sapaan akrabnya menegaskan, dokumen sejarah yang telah ditetapkan melalui peraturan daerah akan menjadi dasar pelaksanaan Hari Jadi Lotim setiap tahunnya. Pemerintah daerah memilih 31 Agustus sebagai momentum peringatan.
“Yang saya harapkan Desember, tapi diperdakan ada Desember dan ada Agustus. Sudah diperdakan itu dipakai. Ditetapkan bukan Agustus, tanggal 31 Agustus. Ada Staatblad dari Belanda. Itu akan dilanjutkan perayaannya setiap tahun, mulai tahun ini akan kita laksanakan,” katanya.
Perayaan perdana pada 2026 akan dilaksanakan secara sederhana mengingat waktunya berada di penghujung tahun anggaran. Salah satu kegiatan yang disiapkan yakni pembagian kupon makan gratis bagi sekitar 10 ribu masyarakat.
Pemkab Lotim juga berencana menghadirkan Gubernur NTB periode 2008–2013, TGH M. Zainul Majdi atau TGB, sebagai salah satu tamu yang diharapkan hadir dalam momentum tersebut.
Selain itu, perayaan akan diramaikan hiburan dengan menampilkan artis lokal. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah membangkitkan potensi sumber daya lokal.
Tidak hanya perayaan Hari Jadi, Bupati Haerul juga mendorong penguatan identitas budaya daerah. Ia menyebut para pejabat pemerintah akan mengenakan pakaian adat pada momentum perayaan.
Haerul berharap Hari Jadi Kabupaten Lotim tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali sejarah, budaya, dan potensi daerah serta memperkenalkannya kepada generasi muda.
Dengan ditetapkannya 31 Agustus sebagai Hari Jadi, Lotim berharap masyarakat semakin memahami perjalanan panjang daerahnya dan menjadikan sejarah sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah ke depan. (rus)


