BerandaNTBLOMBOK TIMURDikhawatirkan Makin Rusak, Belum Ada Solusi Penanganan Hutan Sambelia

Dikhawatirkan Makin Rusak, Belum Ada Solusi Penanganan Hutan Sambelia

- Advertisement -

Selong (Suara NTB) – Kerusakan kawasan hutan di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur (Lotim) dikhawatirkan semakin parah jika tidak segera ditangani secara serius. Hingga kini, belum terlihat solusi yang benar-benar menyentuh persoalan utama, sementara aktivitas pembukaan lahan untuk tanaman jagung masih terus berlangsung.

Pendamping Gema Alam untuk program Forest Watch, Suhirman, kepada Suara NTB di Sugian, Minggu (30/8/2026) mengatakan kondisi hutan Sambelia telah mengalami perubahan cukup signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Sejumlah sungai yang dahulu masih dialiri air kini bahkan disebut telah mati.

“Dulu banyak ditemukan hutan. Saat hujan masih ada air di sungai. Sekarang sungai mati semua,” kata Suhirman.

Menurutnya, persoalan hutan Sambelia menjadi semakin dilematis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat terhadap lahan pertanian dan produksi pangan. Jagung menjadi salah satu tanaman utama yang dikembangkan masyarakat di kawasan tersebut.

Sambelia sendiri merupakan salah satu sentra produksi jagung di Lombok Timur. Luas areal tanaman jagung di wilayah itu diperkirakan mencapai lebih dari 11 ribu hektare. Di sejumlah kawasan, seperti Pdaguar hingga Sugian, luasan lahan jagung bahkan disebut telah mencapai lebih dari 1.000 hektare.

Aktivitas tersebut sebagian berlangsung di kawasan yang sebelumnya merupakan hutan. Di satu sisi, keberhasilan masyarakat meningkatkan produksi tanaman pangan patut diapresiasi. Namun di sisi lain, pembukaan kawasan hutan berpotensi memperbesar tekanan terhadap lingkungan.

“Ini dilema. Satu sisi kita bicara kelestarian lingkungan hidup, tapi sisi lain kita adalah penghasil pangan. Sambelia merupakan penghasil jagung terbesar kedua,” ujarnya.

Dampak Kerusakan Hutan

Suhirman mengingatkan dampak kerusakan hutan akan semakin terasa ketika memasuki musim penghujan. Hilangnya tutupan hutan dan rusaknya daerah tangkapan air berpotensi meningkatkan risiko banjir.

Ironisnya, persoalan tersebut terjadi beriringan dengan kekeringan saat musim kemarau. Kondisi itu membuat masyarakat menghadapi dua ancaman sekaligus: kekurangan air ketika kemarau dan banjir ketika musim hujan.

“Musim kering kekeringan, musim hujan kebanjiran,” katanya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah melakukan langkah antisipasi secara rutin, salah satunya normalisasi sungai. Menurut dia, normalisasi perlu dilakukan secara berkala, misalnya setiap lima tahun, untuk menjaga kapasitas aliran sungai sekaligus mengurangi risiko banjir.

Di sisi lain, persoalan pengawasan kawasan hutan juga dinilai menjadi tantangan. Suhirman menyebut kewenangan pengelolaan kehutanan yang sebelumnya lebih banyak berada di daerah kini beralih ke pemerintah pusat. Kondisi tersebut dinilai ikut mempersulit pengawasan di lapangan.

“Dulu ada lang-lang gawah. Sekarang seperti itu tidak ada. Personel kehutanan juga terbatas,” jelasnya.

Pemberian Bibit Tidak Cukup Pulihkan Kawasan Hutan Sambelia

Ia juga menyoroti pola rehabilitasi hutan yang selama ini banyak dilakukan melalui pemberian bantuan bibit. Menurutnya, pemberian bibit saja tidak cukup untuk memulihkan kawasan hutan Sambelia.

Suhirman mempertanyakan bagaimana bibit dapat tumbuh jika ditanam di kawasan yang sudah kehilangan sumber air.

“Pola rehabilitasi hanya bantuan bibit. Saya yakin kalau ditanam di hutan akan mati karena tidak ada sumber air. Bagaimana bisa hidup?” ujarnya.

Karena itu, rehabilitasi menurutnya harus disesuaikan dengan kondisi ekologis kawasan. Pemerintah tidak cukup hanya membagikan bibit, tetapi harus memastikan tanaman dapat hidup, kawasan sumber air dipulihkan, serta aktivitas masyarakat di sekitar hutan ditata tanpa mengabaikan kebutuhan ekonomi dan pangan.

Persoalan hutan Sambelia, lanjutnya, tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan. Dibutuhkan kebijakan yang mampu mempertemukan kepentingan perlindungan lingkungan dengan kebutuhan masyarakat untuk bercocok tanam.

Tanpa langkah tersebut, tekanan terhadap kawasan hutan dikhawatirkan terus meningkat. Pada akhirnya, kerusakan hutan bukan hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengancam ketersediaan air, meningkatkan risiko banjir, dan mengganggu kehidupan masyarakat di wilayah Sambelia. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO