Dompu (Suara NTB) – Area pelepasan ternak Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, menjadi salah satu kawasan penggembalaan rakyat bagi masyarakat di lereng selatan Gunung Tambora. Namun, setiap musim kemarau, ketersediaan pakan dan air kerap menjadi persoalan bagi ternak yang dilepas di kawasan tersebut.
Kondisi itu membuat banyak peternak memilih membawa pulang ternaknya untuk digembalakan di lahan sawah maupun lahan tadah hujan yang sudah tidak lagi ditanami padi, jagung, maupun tanaman palawija.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu, Ilham, SP., dikonfirmasi Jumat (4/9), mengakui ketersediaan pakan hijauan dan air menjadi kendala bagi ternak di area penggembalaan rakyat Doro Ncanga saat musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat peternak yang biasa melepas ternaknya di Doro Ncanga membawa pulang ternak mereka selama musim kemarau. Ternak kemudian kembali dilepas di padang penggembalaan Doro Ncanga saat awal musim hujan. “Ini sudah menjadi tradisi setiap musim kemarau,” katanya.
Ternak yang dilepas di kawasan Doro Ncanga didominasi milik peternak asal Kecamatan Dompu, Woja, Manggelewa, dan Kempo. Saat musim kemarau, sebagian besar ternak dibawa pulang dan digembalakan di lahan bekas tanaman padi dan jagung untuk mendapatkan pakan hijauan.
Ilham mengatakan, ternak yang tetap berada di padang penggembalaan Doro Ncanga mendapat tambahan pakan dari limbah hasil pertanian. Para pemilik ternak membawa limbah padi, jagung dan kacang kedelai hasil panen petani untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak.
Limbah pertanian tersebut disimpan dengan baik,agar dapat bertahan lebih lama sebelum diangkut ke kawasan pelepasan ternak menggunakan truk maupun kendaraan bak terbuka. “Ini menjadikan ternak di daerah pelepasan Doro Ncanga tetap tersedia pakannya dan terjaga kesehatannya,” jelas Ilham. (ula)



