Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemkab Sumbawa menargetkan Rumah Potong Hewan (RPH) di Dusun Bangkong, Desa Karang Dima, Kecamatan Labuhan Badas beroperasi optimal di awal tahun 2027. Sebagai bentuk komitmen dalam mewujudkan merek daging lokal Sumbawa Beef.
“Tahun ini kita akan perbaiki sejumlah fasilitas yang rusak melalui skema pembiayaan di APBD Perubahan,sehingga kita targetkan RPH ini beroperasi maksimal di tahun 2027,” kata Kabid Ekonomi dan Sumber Daya Alam, Bapperida Kabupaten Sumbawa, Andi Kusmayadi kepada Suara NTB, pekan kemarin.
Pemerintah pun saat ini terus mengkaji skema perjanjian sewa dengan salah satu perusahaan dari Provinsi Jawa Timur. Kajian itu berkaitan dengan nilai sewa atas Barang Milik Daerah (BMD) termasuk pola kemitraan lainnya dengan para peternak lokal di wilayah setempat.
“Saat ini kita tinggal menunggu hasil penilaian dari KPKNL atas biaya sewa BMD itu. Ketika sudah keluar hasilnya baru akan kita koordinasikan lebih lanjut dengan perusahaan,” ucapnya.
Ia menyebutkan, saat ini populasi sapi mencapai 317.000 ekor dan sekitar 20.000 ekor dikirim ke luar daerah. Dengan optimalnya operasional RPH tersebut, maka pemerintah akan membuat kebijakan baru dengan membatasi jumlah sapi ke luar daerah.
“Kita punya 24 kecamatan, jika masing-masing kecamatan menyediakan satu ekor sapi untuk dipotong setiap harinya maka operasional RPH tersebut bisa maksimal,” ujarnya.
RPH ini kata dia,sudah tidak beroperasi secara optimal selama 11 tahun,sehingga adanya investor yang akan mengelola RPH, maka akan memberikan manfaat besar terhadap perekonomian masyarakat sekaligus meningkatkan nilai tambah dari produk daging yang dihasilkan.
“Kita sudah punya masterplan yakni Sumbawa Beef, kita juga sudah membahas hal ini bersama pengusaha dengan tetap menjadikan bran Sumbawa beef ketika produk akan dikeluarkan,” jelasnya.
Ia menyebutkan, RPH ini bukan tidak berfungsi melainkan belum optimal,karena dalam sehari hanya lima ekor sapi yang dipotong. Menurut dia, RPH ini masih difungsikan secara tradisional sehingga asetnya bisa maksimal.
Kedepannya, Pemkab Sumbawa tidak hanya menghasilkan daging segar saja, melainkan ada juga pendinginan dan daging beku. Selain itu, ada pemilahan sehingga memiliki harga yang berbeda dan disesuaikan dengan keinginan pasar.
“Jika ada pemilihan pasti akan meningkatkan nilai tambah, jika kerjasama ini berjalan maka pasar kita akan lebih rame daripada harus mengeluarkan sapi secara utuh,” tambahnya. (ils)



