Dompu (Suara NTB) – Pembangunan Pelabuhan Laut Kilo di Desa Mbuju, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu resmi dimulai. Bupati Dompu, Bambang Firdaus, S.E., melakukan groundbreaking pemancangan tiang pembangunan pelabuhan tersebut, Senin (7/9/2026).
Groundbreaking ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Bupati Dompu didampingi Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Lembar selaku Koordinator Kepelabuhanan Wilayah Provinsi NTB Kementerian Perhubungan RI, Kepala UPP Kelas III Calabai Dompu, Prayitno, S.H., serta anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Dompu.

Usai penekanan tombol sirine, kegiatan dilanjutkan dengan pemancangan tiang di laut untuk konstruksi dermaga. Bupati bersama rombongan kemudian meninjau langsung aktivitas pemasangan tiang pancang menggunakan alat berat dari kapal tongkang. Peninjauan dilakukan dari ujung dermaga pada sisi darat.
Dalam sambutannya, Bupati Dompu Bambang Firdaus menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat dan jajaran Kantor UPP Kelas III Calabai Dompu yang telah berupaya maksimal sehingga pembangunan Pelabuhan Laut Kilo akhirnya dapat direalisasikan tahun 2026.
Menurutnya, pembangunan pelabuhan tersebut melalui proses yang cukup panjang. Pemda Kabupaten Dompu telah menghibahkan lahan seluas 30 hektare di Desa Mbuju pada 27 Februari 2020. Namun, pembangunan fisiknya baru dapat direalisasikan tahun ini. “Karena pembangunan ini prosesnya cukup panjang, tapi baru terealisasi pembangunannya tahun 2026 ini,” katanya.

Bambang mengatakan, kehadiran Pelabuhan Kilo sangat penting bagi Dompu. Dengan potensi wilayah dan sumber daya yang dimiliki, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan hingga pariwisata, keberadaan pelabuhan akan membuka akses distribusi yang lebih efisien.
Dompu memiliki potensi bahari yang luar biasa. Namun selama ini distribusi sejumlah komoditas masih harus melalui daerah lain, sehingga berdampak terhadap tingginya biaya transportasi.
“Kalau kita hitung dengan potensi yang ada di Dompu, mulai dari pertanian, jagung, padi, perkebunan, perikanan, peternakan, cukup luar biasa potensi kita. Ini akan menjadi kendala ketika transportasinya lewat Pekat ataupun Bima. Selain komoditasnya, juga akan dihadapkan pada biaya tinggi. Sehingga kita tidak akan mampu bersaing di pasar yang lebih tinggi,” ujarnya.
Pelabuhan Kilo akan menjadi salah satu jawaban atas persoalan tersebut. Pelabuhan ini diharapkan mampu menghubungkan komoditas Dompu langsung dengan daerah lain, bahkan pasar luar daerah dan internasional.
Bambang mencontohkan potensi ikan tuna di Kecamatan Kilo. Selama ini, hasil perikanan tersebut banyak dikirim ke Bali dan kemudian dipasarkan dengan merek daerah lain untuk memenuhi kebutuhan hotel berbintang. “Kita terhalang akses. Dengan adanya ini, akan terbuka. Bahwa kita juga punya potensi kekhasan Dompu, menjadi branding Dompu,” katanya.
Selain memperlancar distribusi barang, keberadaan pelabuhan dinilai akan membuka lapangan kerja, mulai dari masa konstruksi hingga pelabuhan beroperasi. Aktivitas tersebut juga diyakini akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Ini menjadi tonggak sejarah dalam membuka akses Dompu di mata dunia. Dengan pelabuhan ini, kita telah membuka diri, pintu seluas-luasnya untuk orang di luar datang, kemudian melihat Dompu dengan sejuta potensi yang kita miliki, sehingga nanti akan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Bambang juga melihat Pelabuhan Kilo akan memberikan dampak terhadap sektor pariwisata. Akses laut yang semakin terbuka akan memudahkan orang dari luar daerah untuk datang sekaligus melihat berbagai potensi wisata yang dimiliki Dompu.
Ia menegaskan, Pemda dan masyarakat Dompu harus mengambil peran penting untuk memastikan pembangunan pelabuhan berjalan sukses. Meskipun proyek tersebut merupakan proyek strategis nasional dan bukan proyek strategis daerah, manfaat dan asetnya nantinya akan menjadi bagian penting bagi daerah.
Bupati juga meminta pembangunan dilakukan secara bertanggung jawab dan sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan. Ia berharap pelabuhan yang dibangun tidak sekadar berdiri secara fisik, tetapi memiliki kualitas yang baik dan dapat berkelanjutan.
Kepada masyarakat Kecamatan Kilo, ia meminta agar menyatukan persepsi dan bersama-sama mendukung pembangunan tersebut. “Jangan sampai ada yang menghalangi. Pak Prayitno dan pak Piter (kontraktor) itu hanya membangun saja, tapi yang menikmati adalah masyarakat kita, masyarakat Dompu,” katanya.
Bambang juga meyakini pembangunan pelabuhan akan diikuti dengan peningkatan infrastruktur jalan menuju Kilo. Menurutnya, status jalan dan konektivitas menuju kawasan pelabuhan akan menjadi perhatian seiring dengan hadirnya proyek nasional tersebut. “Kita tidak akan seperti ini lagi. Kilo akan menjadi pusat perekonomian baru,” katanya.
Pemerintah daerah melalui RTRW menetapkan Kecamatan Kilo dan Manggelewa sebagai kawasan industri. Keberadaan pelabuhan nasional di Kilo dan berkembangnya gudang-gudang di Manggelewa dinilai dapat menjadi konektivitas ekonomi jangka panjang.
Sebelumnya Kepala UPP Kelas III Calabai Dompu, Prayitno, SH menyampaikan, groundbreaking menjadi tonggak awal dan langkah strategis dalam mewujudkan peningkatan konektivitas transportasi laut sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kilo dan wilayah sekitarnya.
“Pelabuhan memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung mobilitas masyarakat, distribusi barang dan logistik, serta pengembangan berbagai potensi ekonomi daerah,” katanya.
Prayitno menjelaskan, usulan anggaran pembangunan Pelabuhan Laut Kilo telah dilakukan sejak 2019. Pada 2025, proyek tersebut mendapat anggaran SBSN multiyears sebesar Rp40 miliar untuk pembangunan sisi laut dan Rp58 miliar untuk sisi darat. Setelah proses lelang pada Januari 2025 dan ditetapkan pemenang, pembangunan tidak dapat dilaksanakan setelah terbit Perpres Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran.
Pada tahun anggaran 2026, pembangunan kembali mendapat anggaran APBN sebesar Rp85,111 miliar. Pelaksana proyek adalah PT Wijaya Inti Nusa Sentosa dengan konsultan supervisi PT Intireka Karsa Pamurtya. Masa pelaksanaan 315 hari kalender, terhitung 19 Februari hingga 30 Desember 2026.
Hingga Senin (7/9), progres fisik pembangunan Pelabuhan Laut Kilo tercatat 57,736 persen dengan sisa waktu pelaksanaan 116 hari kerja. Keterlambatan ini tidak lepas dari musibah dalam proses pengiriman material dari Surabaya. Tongkang yang mengangkut 342 batang tiang pancang dari Surabaya menuju Kilo tenggelam di perairan Madura pada 30 Juni 2026 akibat cuaca buruk. Syukurnya Tug boat beserta seluruh awak kapal dilaporkan selamat.
Secara teknis, Pelabuhan Laut Kilo akan dilengkapi dermaga sepanjang 80 meter dan lebar 8 meter dengan kedalaman perairan sekitar 8 meter. Pelabuhan tersebut dirancang melayani kapal dengan maksimum DWT 3.000 ton dan draft maksimum 6 meter.
“Dengan adanya fasilitas ini, hinterland-nya bisa melayani ekspor-impor, konektivitas wilayah Kilo dengan wilayah lainnya dapat semakin terbuka. Potensi daerah, baik sektor pertanian, perikanan, perdagangan maupun sektor ekonomi lainnya, diharapkan memperoleh akses distribusi yang lebih baik,” jelas Prayitno.
Prayitno menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan agar pembangunan berjalan sesuai ketentuan. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung dan menjaga proses pembangunan serta membangun komunikasi dan koordinasi yang baik agar pelabuhan tersebut nantinya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. (ula/*)



