Kota Bima (Suara NTB) – Pemerintah Kota Bima meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca panas ekstrem yang disertai potensi angin kencang. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko kebakaran, kekeringan, pohon tumbang hingga kerusakan fasilitas umum.
Wali Kota Bima, H. A. Rahman H. Abidin, S. E., meminta camat dan lurah tidak menunggu kejadian untuk bergerak. Camat dan lurah sebagai kepala wilayah diminta memantau kondisi wilayah dan mengidentifikasi titik-titik yang berpotensi menimbulkan gangguan akibat cuaca ekstrem.
“Saya minta camat dan lurah untuk benar-benar turun dan memastikan kondisi wilayahnya. Pantau lingkungan, identifikasi titik-titik yang rawan kebakaran, pohon yang berpotensi tumbang, serta kondisi masyarakat yang membutuhkan perhatian akibat cuaca ekstrem,” tegas Rahman pada, Senin (7/9).
Peringatan tersebut tidak terlepas dari kejadian di Kota Bima. Selama 2025, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bima mencatat 62 kejadian kebakaran. Kebakaran lahan menjadi kasus terbanyak dengan 24 kejadian, disusul kebakaran rumah dan permukiman sebanyak 18 kejadian.
Selain kebakaran, Damkar juga mencatat 44 penanganan pohon tumbang kurun waktu tahun 2025. Kondisi ini menunjukkan kebakaran dan pohon tumbang merupakan ancaman yang berulang di wilayah Kota Bima.
Memasuki tahun 2026, kejadian serupa masih ditemukan. Berdasarkan sejumlah laporan kejadian yang terpublikasi hingga awal September, sejumlah tujuh kebakaran terjadi di sejumlah wilayah Kota Bima, mulai dari kebakaran rumah, bengkel, hingga kebakaran lahan.
Salah satunya kebakaran lahan di sekitar Kolam Renang Bima Tirta, Kelurahan Ule, pada awal September. Api berhasil dipadamkan sebelum meluas. Pohon tumbang juga masih menjadi persoalan tahun ini. Sejumlah kejadian dilaporkan terjadi di beberapa titik, termasuk pohon tumbang yang menghalangi akses jalan di wilayah Manggemaci.
Kondisi panas juga membuat risiko kebakaran lahan menjadi perhatian. Wali Kota mengingatkan masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api, terutama membakar sampah atau lahan secara sembarangan.
“Kita harus mengedepankan pencegahan. Jangan sampai setelah terjadi musibah baru kita bergerak,” katanya.
Sementara potensi angin kencang dapat memicu pohon tumbang dan kerusakan benda-benda di ruang terbuka. Masyarakat diminta memeriksa kondisi pohon besar, papan reklame, atap rumah, serta benda lain yang mudah terbawa angin.
Aparatur kecamatan dan kelurahan juga diminta memperkuat koordinasi dengan BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, aparat keamanan, dan unsur terkait apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan.
Masyarakat juga diingatkan menjaga kesehatan dengan mencukupi kebutuhan air minum dan mengurangi aktivitas di bawah terik matahari dalam waktu lama. Gangguan kesehatan akibat panas diminta segera mendapat pertolongan.
“Kita jaga Kota Bima bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kewaspadaan, kepedulian dan gotong royong masyarakat menjadi kunci untuk menghadapi cuaca ekstrem ini,” pungkasnya. (hir)



