BROS Tembolak merupakan salah satu produk kriya Kota Mataram. Produk ini menjadi ikon baru yang diciptakan oleh Ketua Dekranasda Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana dan kini telah memiliki Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum Republik Indonesia. Pelaku seni atau pelaku kreatif diberikan keleluasaan atau gratis menduplikasikan karya tersebut.
Ketua Dekranasda Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana saat Talkshow di Radio Global FM Lombok, Kamis (10/9) menjelaskan, perkembangan produk kriya semakin beragam di sejumlah daerah. Khusus di Kota Mataram memiliki produk unggulan kerajinan mutiara. Kerajinan mutiara telah dikenal luas sampai ke mancanegara.
Ia memiliki ide bahwa Ibu kota Provinsi NTB ini harus memiliki kreativitas dan inovasi setiap tahunnya serta tidak monoton, sehingga muncul ide menciptakan bros tembolak. “Warga kita sangat kreatif, tetapi kita mau monoton hanya bros motif bunga dan lain sebagainya,” terangnya.
Beberapa ide kreatif telah menjadi ikon di Kota Mataram. Di antaranya, Gerbang Sangkareang berbentuk lumbung. Gerbang Sangkareang ini justru banyak peminatnya, sehingga menjadi produk andalan.
Kikin sapaan akrabnya melihat bahwa banyak ikon Kota Mataram yang perlu diangkat. Ia mencoret-coret di kertas serta berdiskusi dengan perajin asal Kelurahan Pagutan, Kecamatan Mataram untuk membuat bros tembolak.
Pembuatan bros tembolak memiliki tingkat kesulitan tinggi dibandingkan produk kriya lainnya. Bros tembolak sangat kecil dan lebih detail. Kendati demikian, perajin mampu menerjemahkan desain yang diinginkan. “Kesulitannya adalah sangat detail dibandingkan dengan Gerbang Sangkareang,” jelasnya.
Kesuksesan menciptakan produk kriya yang ikonik tersebut, sehingga ia mencoba mendaftarkan ke Kementerian Hukum Republik Indonesia untuk mendapatkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
Tujuannya kata Kikin, memotivasi pelaku kreatif dan pelaku seni mendaftarkan ide mereka agar karyanya dihargai oleh masyarakat secara luas. Selain itu, perajin akan mendapatkan keuntungan pasif atau pasif income. Paling penting adalah produk kriya akan memiliki nilai jual tinggi serta diakui secara luas.
Khusus desain bros tembolak, kata Kikin, pelaku seni atau pelaku kreatif digratiskan menduplikasi. “Saya bebaskan perajin menduplikasikan atau tidak dikenakan pajak alias gratis. Tetapi perajin izin dengan memodifikasi sesuai versi mereka,” ujarnya.
Kikin menyadari bahwa produk yang ikonik pasti memiliki daya tarik tersendiri. Hal ini akan menjadi perhatian bagi wisatawan untuk mengoleksi. Ia mencontohkan wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah pasti ingin memiliki sesuatu yang ikonik dengan daerah itu. Produk kriya pasti ingin dijadikan oleh-oleh atau kenang-kenangan, sehingga menjadi penanda mereka telah berkunjung ke daerah tersebut.
Ia mengakui bahwa tantangan dalam memproduksi bros tembolak adalah sumber daya manusia. Artinya, perajin tidak semua mampu menerjemahkan motif yang diinginkan. Selain itu, bahan baku yang semakin mahal, sehingga menjadi persoalan atau kendala bagi perajin untuk menentukan nilai jual. “Belum lagi tingkat kerumitan serta bahan baku semakin mahal,” ujarnya.
Akan tetapi, pihaknya memberikan ruang seluas-luasnya bagi pelaku kreatif di Kota Mataram untuk mempromosikan produk mereka. Galeri Dekranasda adalah salah satu wadah untuk mempromosikan produk unggulan yang diciptakan oleh perajin Kota Mataram. Harapannya adalah produk kriya bisa bersaing dengan produk lainnya. (cem)



