BerandaEKONOMIPuso di NTB Disebut Jauh di Bawah Ambang Batas

Puso di NTB Disebut Jauh di Bawah Ambang Batas

Mataram (Suara NTB) – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah NTB belum berdampak signifikan terhadap tanaman pangan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB mencatat luas tanaman yang mengalami puso masih sangat kecil.


Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, mengatakan dampak kekeringan terhadap tanaman padi dan jagung masih berada jauh di bawah ambang batas puso.


“Memang ada kekeringan, tetapi yang masuk laporan untuk padi dan jagung tidak signifikan mengalami puso. Hampir 98 persen dapat teratasi,” kata Mirza, Jumat (11/9/2026).


Menurutnya, langkah antisipasi dilakukan melalui Brigade Pangan yang memiliki peralatan seperti traktor dan pompa. Ketika terdapat areal yang membutuhkan pasokan air, pompa dapat langsung didistribusikan untuk menyelamatkan pertanaman.


Selain Brigade Pangan, UPTD Perlindungan Tanaman juga memberikan pelayanan pinjam pakai pompa kepada petani. Salah satunya dilakukan di wilayah Kuripan, Lombok Barat, untuk menjaga pertanaman tetap mendapatkan pasokan air.


Mirza mengatakan, antisipasi kekeringan tidak hanya dilakukan setelah tanaman mengalami kekurangan air. Petani sejak awal telah diarahkan untuk menyesuaikan komoditas dengan kondisi ketersediaan air.


Petani diimbau tidak memaksakan menanam padi apabila pasokan air tidak mencukupi. Lahan tetap dapat dimanfaatkan dengan menanam komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering dan membutuhkan lebih sedikit air.
“Jangan sampai lahan dibiarkan kosong. Banyak komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sedikit membutuhkan air,” ujarnya.


Komoditas yang dinilai sesuai untuk musim kemarau antara lain jagung, cabai, bawang, dan tembakau. Penyesuaian pola tanam tersebut melibatkan penyuluh pertanian lapangan (PPL), petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT), petugas pengawas benih tanaman (PBT), hingga pekaseh.


Pemantauan ketersediaan air juga dilakukan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I melalui Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) NTB.


Mirza menyebutkan laporan dampak kekeringan berasal dari sejumlah daerah. Di Dompu terdapat sekitar 10 hektare tanaman padi yang terdampak, sedangkan di Gerung dan Kuripan, Lombok Barat, sekitar 20 hektare.


Namun, seluruh areal tersebut masih dapat diselamatkan sehingga tidak menjadi puso. Sementara tanaman yang benar-benar mengalami puso tercatat di Sumbawa.


“Kalau dihitung, masih di bawah satu persen dari luas areal. Jadi sangat jauh dari ambang batas,” katanya.


Kondisi tersebut, menurut Mirza, menunjukkan langkah antisipasi yang dilakukan petugas bersama petani cukup efektif dalam menekan dampak kekeringan.


Di tengah kekeringan yang diperkirakan berlangsung panjang hingga 2027, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB terus memantau ketersediaan air dan kondisi pertanaman.


Mirza mengatakan, berdasarkan potensi produksi yang dihitung bersama BPS, produksi gabah kering giling (GKG) NTB hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai 1,66 juta ton.


“Angka tetap nanti setelah periodenya lewat. Tetapi potensi 1,66 juta ton dari Januari sampai Oktober itu tidak akan jauh berbeda,” jelasnya.
Produksi jagung juga diproyeksikan tetap aman. Hingga Oktober 2026, produksi jagung diperkirakan mencapai sekitar 1,1 juta ton pipilan kering dengan kadar air 14 persen.


Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 1,2 juta ton. Namun, Mirza memastikan kondisi tersebut belum mengganggu ketersediaan pangan NTB. “Insyaallah aman,” pungkasnya.(bul)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO