Giri Menang (Suara NTB) – Sejumlah wilayah di Lombok Barat (Lobar) dilanda kekeringan ekstrem akibat sebulan hingga dua bulan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH). Pemkab Lobar pun telah menetapkan status tanggap darurat bencana kekeringan, dengan memaksimalkan penyaluran atau droping air kepada masyarakat yang berada di daerah-daerah kekeringan.
Melalui rilis resmi rangkuman iklim Dasarian I September 2026 Provinsi NTB, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I NTB Putrantijo, SP.,M.Si., menyampaikan, hampir semua wilayah Lombok Barat mengalami HTH. Sebarannya di delapan kecamatan masing-masing Kecamatan Gerung, terdapat dua desa. Gunungsari, satu desa. Kediri, dua desa. Labuapi, satu desa. Lembar, satu desa. Lingsar, Narmada, dan Sekotong masing-masing satu desa.
Jika dilihat HTH ini, berada pada rentang Sangat Panjang (31-60 hari) hingga Kekeringan Ekstrem (>60 hari). Bahkan, dari 10 daerah yang masuk HTH, empat di antaranya kategori kekeringan ekstrem yakni Sekotong, Lembar, Gerung, dan Labuapi.
“Berdasarkan monitoring HTH Berturut–turut Provinsi NTB secara umum berada pada rentang Sangat Panjang (31-60 hari) hingga Kekeringan Ekstrem (>60 hari). HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Bolo (Kab. Bima) sepanjang 115 hari termasuk dalam kategori Kekeringan Ekstrem,” katanya, Kamis (17/9/2026).
Saat ini seluruh wilayah NTB sudah memasuki periode musim kemarau. Sebanyak 27 Zona Musim (ZOM), telah terkonfirmasi memasuki periode Musim Kemarau sejak Dasarian I Juni 2026. Curah hujan di wilayah NTB pada dasarian I September 2026 berada pada kategori Rendah (0–10 mm/dasarian). Sifat hujan pada dasarian I September 2026 di wilayah NTB berada pada kategori Bawah Normal (BN) hingga Atas Normal (AN).
Pada Dasarian II September 2026 (11–20 September), potensi hujan di sebagian besar wilayah NTB sangat rendah, dengan peluang <10 persen. Peluang hujan >20 mm/dasarian sebesar 10–40% diprediksi terjadi di sebagian wilayah Kota Mataram, Lombok Barat, dan Sumbawa.
Peringatan Dini Kekeringan
Beberapa daerah memasuki level siaga, khususnya di Lobar terdiri dari Kecamatan Gerung, Gunung Sari, Kediri, Lingsar. Level Awas di Kecamatan Sekotong, Labuapi, dan Lembar. Dengan kondisi Dasarian I September 2026, seluruh wilayah di NTB saat ini telah resmi berada pada periode musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Nino. Untuk itu, pihak BMKG pun mengimbau dengan meluasnya wilayah yang masuk dalam Level Siaga hingga Awas akibat Hari Tanpa Hujan yang kian memanjang. Masyarakat diharapkan dapat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk sangat waspada terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun pemukiman dengan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. Dan tetap perhatikan informasi BMKG guna mengantisipasi dampak bencana maupun kerugian dalam perencanaan kegiatan.
Sementara itu, Kepala Kepala Bidang Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat, Toni Hidayat, mengatakan kekeringan di Lombok Barat, meluas ke enam kecamatan, terdiri atas 17 desa atau 63 dusun. Pemkab pun merespons kebencanaan itu dengan menetapkan status tanggap darurat.
Pemkab kini bisa menggunakan Anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) untuk penanganan kekeringan setelah kenaikan status dari siaga menjadi tanggap darurat. Berdasarkan prakiraan cuaca, puncak kekeringan diprediksi terjadi pada September hingga Oktober. Namun, kondisi tersebut berpotensi berlangsung lebih lama hingga November. (her)



