PEMERINTAH Kelurahan Turida, Kecamatan Sandubaya, mengandalkan delapan inovasi untuk memperkuat pelayanan publik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Nasional 2026.
Delapan inovasi tersebut meliputi OMABAS, Kampung Lestari, NGOPI COI, JUWITA-ku, Rapor Bansos, SPINK, PIRAMID, dan Kampung Pekenan.
Lurah Turida, Musadi Azani, mengatakan bahwa berbagai inovasi tersebut dikembangkan untuk menghadirkan pelayanan pemerintah yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, pelayanan publik tidak seharusnya hanya berorientasi pada urusan administrasi, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan warga dan mendorong kemandirian masyarakat.
“Kami ingin supaya program-program ini langsung berorientasi menjawab persoalan masyarakat dan mendorong kemandirian,” ujarnya, Senin (12/10).
Di bidang pelayanan publik, Kelurahan Turida menghadirkan PIRAMID (Pintu Informasi Administrasi Terintegrasi Turida). Inovasi ini memudahkan warga mengakses informasi administrasi, menyampaikan pengaduan, memperoleh informasi bantuan sosial, hingga memanfaatkan perpustakaan digital.
Sementara itu, Kampung Lestari berfokus pada penciptaan lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan tangguh. Program ini dijalankan melalui bank sampah, penyediaan 12 tempat dedoro, serta pelibatan kelompok masyarakat dalam upaya mitigasi bencana.
Untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, Kelurahan Turida mengembangkan NGOPI COI (Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia) dan JUWITA-ku (Jumpa Wilayah Tanggap Lingkunganku). Kedua inovasi tersebut menjadi ruang dialog bagi warga untuk membahas berbagai persoalan, termasuk keamanan lingkungan, masalah sosial, dan pendampingan hukum.
Azani mengatakan, keterlibatan aktif masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan program-program tersebut. Menurut dia, komunikasi dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan warga dapat mempermudah penyelesaian berbagai persoalan di lingkungan.
Di sektor ekonomi, Kampung Pekenan dan digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diarahkan untuk memperluas pemasaran produk lokal. Produk yang dikembangkan mencakup olahan kelor, makanan, kerajinan, hingga produk usaha logam.
Adapun OMABAS (Olahan Makanan Balita Atasi Stunting) berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi balita melalui pemanfaatan pangan lokal. Pelaksanaannya melibatkan pos pelayanan terpadu (Posyandu), kader, dan keluarga untuk mendukung upaya pencegahan stunting.
Berdasarkan data yang tersedia, jumlah anak yang tercatat mengalami stunting di Kelurahan Turida turun dari 54 anak pada 2024 menjadi 33 anak pada 2025.
Pada sektor perlindungan sosial, Rapor Bansos dikembangkan untuk mendukung validasi data penerima bantuan agar penyalurannya lebih tepat sasaran. Sementara itu, SPINK (Organisasi Pilantropi Dermawan Keluarga) mendorong solidaritas warga untuk membantu masyarakat yang mengalami musibah, sakit, maupun membutuhkan dukungan pendidikan.
Azani menegaskan, kolaborasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan seluruh inovasi tersebut. Untuk itu, Kelurahan Turida menerapkan pendekatan pentahelix yang melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media. (pan)



