Mataram (Suara NTB) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mataram memetakan tiga motif utama aktivitas badut jalanan yang marak beroperasi di sejumlah persimpangan lampu merah dan pusat perbelanjaan. Selain melakukan penertiban, Satpol PP juga akan menelusuri pihak yang diduga mengoordinasikan aktivitas tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga ketertiban umum.
Kepala Satpol PP Kota Mataram, H. Irwan Rahadi, mengatakan pemetaan yang dilakukan bersama Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram bertujuan untuk mengetahui latar belakang aktivitas para badut jalanan sekaligus mengidentifikasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban.
Menurut Irwan, terdapat tiga motif yang teridentifikasi, yakni badut jalanan yang beroperasi secara terkoordinasi, mereka yang murni mencari nafkah, serta aktivitas yang diduga berpotensi mengganggu keamanan di jalan raya.
“Kami sudah mendata bersama Dinsos pada saat penertiban kemarin,” ujarnya, Senin (12/10).
Ia menegaskan, penanganan badut jalanan tidak cukup hanya melalui penertiban di lapangan. Petugas perlu menelusuri motif aktivitas tersebut, termasuk mengidentifikasi pihak yang diduga mengendalikan atau mengoordinasikan para badut jalanan.
Dalam pelaksanaannya, Dinsos terlebih dahulu memberikan pembinaan administratif dan melakukan pendataan identitas. Sementara itu, Satpol PP bertugas menindak aktivitas yang melanggar ketentuan ketertiban umum.
Irwan mengatakan, petugas dapat menyita perlengkapan badut secara permanen apabila pelaku kembali mengulangi aktivitasnya setelah mendapatkan pembinaan.
“Kalau pembinaan tidak bisa, ya sudah kita sita permanen. Kalau besok tertangkap lagi dan mengulangi, kita sita,” tegasnya.
Ia menambahkan, aktivitas yang mengganggu ketertiban di jalan raya tetap tidak diperbolehkan, terlepas dari alasan yang melatarbelakanginya. Menurutnya, setiap aktivitas di ruang publik harus mematuhi ketentuan yang berlaku.
“Apa pun alasannya tidak boleh, namanya di jalan raya itu tidak boleh. Ruang publik itu ada ketentuannya,” kata Irwan.
Saat ini, Satpol PP masih melakukan pemetaan untuk menelusuri pihak yang diduga mengoordinasikan aktivitas badut jalanan. Upaya tersebut dilakukan agar penanganan tidak hanya menyasar para pekerja di lapangan, tetapi juga pihak yang berada di balik aktivitas tersebut.
“Makanya kita mapping, kita cari koordinatornya, siapa yang mengendalikan mereka ini. Yang penting ini bukan sekadar masalah menyita atau mengamankan pakaiannya, tapi kita ingin beri efek jera dan memastikan motif mereka,” pungkasnya. (pan)



