Selong (Suara NTB) – Dinas Kesehatan Lombok Timur (Dikes Lotim) menegaskan angka stunting 18,4 persen yang bersumber dari data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) dapat dipertanggungjawabkan. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang menyebut stunting di Lotim di atas 33 persen.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dikes Lotim, Lalu Muhammad Anwar. Menurutnya, data e-PPGBM merupakan data riil yang diperoleh dari lapangan dan dapat ditelusuri hingga by name by address.
“Kami percaya pada e-PPGBM. Itu lebih riil. Data 18,43 persen stunting dari e-PPGBM bisa dipertanggungjawabkan,” kata Anwar.
Ia menjelaskan cakupan e-PPGBM sudah di atas 95 persen. Tingginya kehadiran ke posyandu pada rilis Agustus, lanjutnya, memberikan gambaran capaian per wilayah. Namun, Anwar mengakui data e-PPGBM sudah beberapa tahun terakhir stagnan. Meski demikian, kondisi itu dinilai mendekati kondisi riil di lapangan.
Anwar juga menyoroti disparitas antarwilayah kecamatan yang sangat tinggi. Sebagai contoh, stunting di Kecamatan Sakra tercatat 9 persen, sementara Sikur tinggi. “Terjadi disparitas antar wilayah kecamatan sangat tinggi. Sedang kami kaji betul, melihat karakteristik SDM, apa penyebabnya,” ujarnya.
Terkait perbedaan dengan SKI, Anwar menilai metodologi SKI bagus, tetapi bisa saja mengandung bias. Data SKI tercatat 27 persen pada 2023, lalu 33 persen pada 2024, dengan rencana menjadi 23 persen. Sementara tahun ini, e-PPGBM mencatat 18 persen. “Harapannya riil,” katanya.
Ia menjelaskan e-PPGBM berjalan untuk kebutuhan lapangan dan tata laksana, sedangkan SKI untuk perencanaan. Karena itu, Dikes Lotim memperkuat validasi data di bawah, termasuk melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Salah satu persoalan yang disorot adalah kalibrasi alat ukur.
“Ada kondisi kritis di pengukuran, yaitu -3,1 sampai -1,9 standar deviasi. Ketika salah ukur, orang yang tidak stunting jadi stunting,” jelas Anwar. (rus)



