Mataram (Suara NTB) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia menyelenggarakan Rupiah dan Pahlawan (RUPAWAN) 2026 di Auditorium M. Yusuf Abubakar, Universitas Mataram, Jumat, 6 November 2026. Mengusung tema “Rupiah dan Pahlawan, Semangat Pahlawan dalam Diri, Kedaulatan Rupiah untuk Negeri”, kegiatan ini menjadi upaya memperkuat kecintaan dan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap Rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa. Hadir dalam kegiatan ini, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali. Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, M. Anwar Bashori. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas.
Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair, mewakili Gubernur NTB. Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd. Ketua MUI, Dr. TGH. Badrun, M.Pd. Dan stakeholders lainnya dari perwakilan instansi vertikal, lembaga, perbankan, akademisi, PJPUR, Duta Guru NTB, Duta Muda NTB, dan generasi muda.
Sekda NTB, Abul Chair dalam kesempatan ini menekankan, semangat kepahlawanan tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan pada masa lalu, tetapi juga dapat dihidupkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya dengan mengenali dan menghargai nilai-nilai perjuangan para pahlawan yang diabadikan dalam setiap lembar uang Rupiah. Rupiah menurutnya bukan sekadar alat transaksi, melainkan juga pengingat akan sejarah perjuangan bangsa, identitas, dan persatuan Indonesia.
“Oleh karena itu, mencintai Rupiah merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap jasa para pahlawan sekaligus wujud kecintaan terhadap Tanah Air,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menyampaikan pentingnya Rupiah sebagai simbol identitas, persatuan, dan kedaulatan bangsa. Setiap lembar Rupiah menyimpan cerita mengenai sejarah, budaya, serta kekayaan alam Indonesia.
Hal tersebut juga tercermin dalam sejumlah desain uang Rupiah yang memiliki keterkaitan dengan NTB, seperti gambar Ayam Hutan Hijau pada uang Rp500 emisi 1959, Rusa Timor pada uang Rp500 emisi 1988, serta Danau Segara Anak di Gunung Rinjani pada Rp10.000 emisi 1998.
Lebih lanjut, Ricky P. Gozali menjelaskan bahwa Bank Indonesia terus berupaya memastikan ketersediaan Rupiah dalam jumlah yang cukup, pecahan yang sesuai, serta kondisi yang layak edar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk melalui layanan kas keliling hingga wilayah terdepan, terluar, dan terpencil.
Namun, upaya menjaga Rupiah tidak dapat dilakukan sendiri oleh Bank Indonesia. Diperlukan sinergi bersama pemerintah daerah, perbankan, dunia pendidikan, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat.
Generasi muda juga disebutnya memiliki peran strategis sebagai agen edukasi CBP Rupiah. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, turut menjadi bagian dari upaya penguatan edukasi CBP Rupiah melalui keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Upaya menjaga Rupiah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan uang layak edar, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk mengenali, merawat, dan menggunakan Rupiah secara bijak.
Sinergi dengan pemerintah daerah, dunia pendidikan, komunitas, serta generasi muda menjadi bagian penting agar edukasi CBP Rupiah dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Rangkaian kegiatan RUPAWAN 2026 meliputi Bincang Rupawan, Ngobrol Publik, CBP Rupiah Championship, Festival Karya CBP Rupiah, dan Pameran Rupawan.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi, apresiasi, dan interaksi bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat Rupiah serta menumbuhkan semangat kepahlawanan melalui kreativitas dan partisipasi generasi muda. Melalui penyelenggaraan RUPAWAN 2026, Bank Indonesia mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap Rupiah serta berperan aktif dalam menjaga kedaulatan bangsa. (bul)



