Mataram (Suara NTB) – Museum Negeri NTB menggelar pidato kebudayaan bertema NTB 20 Tahun “Proyeksi Dalam Bingkai Kebudayaan”. Acara ini dalam rangka menanamkan dan melestarikan nilai-nilai budaya menuju Indonesia Emas 2045.
Acara yang digelar pada Jumat, 2 Agustus 2024 ini menggandeng tiga orator pegiat budaya NTB, yaitu Ketua Majelis Adat Sasak, Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan., M.H, Rektor UNU, Dr. Baiq Mulianah, M.Pd, serta Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram, Dr. H. Muhammad Saleh Ending.
Menuju 100 tahun Indonesia, tidak bisa digapai jika hanya mengandalkan pendidikan dan kesehatan saja, tetapi perlu adanya kontribusi aspek lain agar identitas daerah tidak hilang, yaitu dengan pengenalan budaya.
Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, S.H., M.H mengatakan, nilai budaya di NTB bisa menjadi modal utama untuk menjaga nilai unggul daerah.
Apabila budaya tidak diperkenalkan sejak dini, maka 10 atau 20 tahun kedepan budaya tersebut akan hilang dan bisa menjadi boomerang bagi daerah karena tidak memiliki identitas.
“Kalau kita tidak menggali, tidak mengidentifikasi, tidak meriset dan menyebarkan nilai-nilai kebudayaan itu menjadi satu hal bahaya yang akan datang. Karena kita takut nanti generasi muda yang akan datang itu pas dengan 100 tahun Indonesia Merdeka menjadi suatu hal yang zonk atau hilang,” ujarnya.
Menurutnya, NTB memiliki potensi dan nilai budaya tinggi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, diadakannya acara ini dalam upaya untuk lebih mengenalkan budaya kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang akan membawa Indonesia khususnya NTB Emas 2045.
“Budaya kita, budaya masyarakat kit aitu kita berbicara tentang masa depan, karena budaya bukan hanya masalalu, tetapi saat ini dan masa yang akan datang,” lanjutnya.
Sementara itu, menurut Ketua Majelis Adat Sasak, Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, M.H, budaya NTB saat ini kian merosot mengikuti perkembangan zaman. Sehingga jika tidak di upayakan mulai saat ini, maka permasalahan yang dihadapi akan lebih sulit serta budaya akan semakin tergerus.
“Darurat, coba lihat, 20 tahun ini kan kita menuju Indonesia Emas 2045. Tahun 2030, disitu adalah bonus demografi bagi Indonesia, hampir 70 persen masyarakat adalah usia produktif, kalau usia produktif ini tidak mampu di-manage dengan baik, maka itu menjadi prahara bagi kita semua,” jelasnya.
Menurutnya, untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia di tahun 2045 nanti, perlu adanya peningkatan SDM, salah satunya adalah dengan pengenalan budaya.
“Kita ingin menggedor perasaan kita semua, budaya ini adalah internalis dalam kehidupan kita. Cipta rasa dan karsa milik kita bersama, tinggal bagaimana kita mengeksplor rasa dan budaya ini agar bisa kita aplikasi dalam kehidupan bersama,” lanjutnya.
Apalagi, semua sektor kehidupan manusia tidak terlepas dari budaya, oleh karenanya Sajim mengingatkan perlu adanya persatuan dan kesatuan masyarakat untuk mencapai NTB unggul dan maju.
“Semua sektor kehidupan tidak lepas dari budaya, maka jadikanlah budaya itu informalis artinya mendarah daging sebagai urat saraf kita membangun kesatuan dan persatuan bangsa, maka kita bisa wujudkan NTB yang lebih maju,” tutupnya. (era)


