Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan Kota Mataram mengungkapkan sekitar 71 persen jemaah calon haji (JCH) asal Kota Mataram masuk dalam kategori berisiko tinggi.
Risiko tersebut umumnya dipengaruhi oleh faktor usia lanjut, riwayat penyakit serta kondisi kesehatan lainnya yang memerlukan perhatian khusus selama pelaksanaan ibadah haji.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, menegaskan bahwa meskipun tergolong berisiko tinggi, seluruh jemaah tetap dinyatakan layak berangkat ke Tanah Suci. Hal ini karena para jemaah telah memenuhi kriteria istitha’ah kesehatan setelah melalui serangkaian pemeriksaan medis secara menyeluruh.
“Meski berisiko tinggi, mereka tetap mampu dan layak menjalankan ibadah haji karena sudah melalui tahapan pemeriksaan kesehatan, termasuk vaksinasi dan pembekalan obat-obatan,” ujarnya, Selasa (21/4).
Ia menjelaskan, kategori risiko tinggi tidak serta-merta menjadi penghalang keberangkatan, melainkan menjadi dasar untuk memberikan pendampingan dan pengawasan kesehatan yang lebih intensif. Oleh karena itu, pihaknya telah menyiapkan tim kesehatan yang akan mendampingi jemaah sejak keberangkatan hingga kembali ke tanah air.
Menurut Emirald, koordinasi dengan tim kesehatan pendamping terus diperkuat, terutama dalam upaya menjaga kondisi fisik jemaah serta mencegah potensi penularan penyakit selama berada di Arab Saudi. Ia juga menekankan pentingnya disiplin jemaah dalam menjaga pola hidup sehat.
“Kami mengingatkan jemaah untuk memperhatikan pola makan, cukup istirahat, dan tidak memaksakan diri dalam beraktivitas. Ini penting agar kondisi tetap stabil selama menjalankan ibadah,” katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil pemeriksaan, penyakit yang paling banyak ditemukan pada jemaah berisiko tinggi adalah hipertensi dan diabetes. Meski demikian, kondisi tersebut masih dapat dikendalikan melalui pengobatan rutin dan pengawasan dari tim medis.
Sementara itu, Pemerintah Kota Mataram mencatat jumlah jemaah calon haji yang akan diberangkatkan pada tahun 2026 sebanyak 809 orang. Para jemaah tersebut terbagi dalam tiga kelompok terbang (kloter), yakni kloter 5, 10, dan 15.
Untuk jadwal keberangkatan, kloter 5 direncanakan berangkat pada 27 April 2026. Pemerintah Kota Mataram akan menggelar pelepasan resmi sehari sebelumnya, yakni pada 26 April 2026.
Saat ini, pemerintah daerah melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) tengah mematangkan berbagai persiapan teknis pelepasan jemaah, termasuk koordinasi lintas instansi agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan lancar.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan atribut identitas bagi jemaah, seperti syal dan rompi, guna memudahkan identifikasi selama berada di Tanah Suci. Seluruh jemaah diharapkan telah mengenakan atribut tersebut saat mengikuti prosesi pelepasan.
Dengan berbagai persiapan yang telah dilakukan, Pemerintah Kota Mataram berharap seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar, aman, dan kembali ke tanah air dalam kondisi sehat. (pan)

