Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa melakukan evaluasi sejumlah dokumen rencana pembangunan Bendungan Kerekeh. Review dilakukan karena dokumen perencanaan telah berusia lebih dari 10 tahun.
“Dokumen itu sudah hampir lebih dari 10 tahun dan perlu kita lakukan evaluasi baik itu detail engineering desain,analisis dampak lingkungan termasuk rencana pengadaan lahan dan pemukiman kembali,” kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sumbawa, Lalu Suharmaji Kertawijaya dikonfirmasi Suara NTB pekan kemarin.
Evaluasi dokumen saat ini masih terus berproses di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara 1. Pihaknya berharap di tahun 2027, desainnya sudah final sehingga bisa diajukan untuk proses sertifikasi bendungan.
Suharmaji melanjutkan, pihaknya masih menunggu hasil review dan evaluasi terhadap dokumen-dokumen yang sebelumnya sudah susun.
“Kita perlu review karena cuaca saat ini sangat luar biasa sehingga bendungan yang kita hajatkan sebagai pengendali banjir dan pasokan air baku bisa bertahan lama, ” ucapnya.
Berdasarkan rancangan awal, pihaknya perlu menyiapkan tiga alternatif yakni posisi AS bendungan yang hingga saat ini masih dilakukan review. Jangan sampai kata dia, bendungan yang ditaksir menghabiskan anggaran sekitar Rp1,7 – Rp2 triliun tersebut, tidak mampu menjadi pengendali banjir nantinya.
“Jadi, kita harus lakukan review secara matang, jangan sampai menimbulkan persoalan baru di kemudian hari nantinya, ” ujarnya.
Sementara terkait pengadaan lahan lanjutnya, pihaknya sudah mengusulkan agar bisa dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I. Hal tersebut dilakukan karena anggaran yang dimiliki pemerintah daerah sangat terbatas.
“Jadi, tugas kita (Pemerintah) saat ini menyiapkan dokumen- dokumen pendukung lainnya yakni analisis dampak lingkungan yakni jalan menuju lokasi dan kondisi lahan yang menjadi tugas kita selama tahun 2026- 2027,” terangnya.
Pembangunan Bendungan Kerekeh bertujuan sebagai pengendali banjir di Kota Mataram, khususnya di Sungai Brang Biji. Hal itu dilakukan karena hampir setiap tahun terjadi banjir sehingga berdampak luas bagi masyarakat.
“Di Kota Sumbawa ada lima kelurahan yang berpotensi terdampak banjir, sehingga aktifitas ekonomi nantinya akan terganggu,” jelasnya.
Bendungan ini dinilai memiliki fungsinya yang sangat penting, sehingga Bendungan Kerekeh ini sangat diperlukan sebagai upaya menanggulangi bencana banjir. Selain itu, air dari Bendungan Kerekeh juga diperkirakan akan mampu mengairi lahan seluas 4.500 hektare.
“Air dari bendungan ini juga akan dijadikan untuk suplai air bersih ini yang paling penting, sehingga nanti terkoneksi dengan SPAM Ai Ngelar,” tambahnya.
Jika program SPAM Ai Ngelar terwujud lanjutnya, maka akan ada sekitar 4.000 sambungan rumah yang akan terlayani. Saat ini kata dia,banyak sekali muncul perumahan baru terutama di wilayah Samota yang akan terlayani semua jika program ini terwujud.
“Jadi, SPAM Ai Ngelar ini kita prediksi akan menghasilkan air bersih berkapasitas 100 liter per detik. Artinya, tidak akan ada lagi wilayah di Sumbawa yang mengalami krisis air,” demikian kata dia. (ils)

