Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram menegaskan hingga saat ini tidak ada instruksi dari pemerintah terkait pelaksanaan tes swab maupun polymerase chain reaction (PCR) secara massal untuk hantavirus.
Penegasan tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar di masyarakat mengenai adanya kewajiban pemeriksaan massal terkait virus tersebut.
Meski demikian, Dinkes Kota Mataram tetap meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran penyakit tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, mengatakan hingga kini tidak ada perintah resmi, baik dari Dinas Kesehatan maupun Kementerian Kesehatan, untuk melakukan pemeriksaan swab massal kepada masyarakat.
Menurutnya, pemerintah pusat hanya mengeluarkan surat edaran tertanggal 10 Mei 2026 terkait kewaspadaan terhadap hantavirus, termasuk pembagian tugas untuk screening dan surveilans aktif di fasilitas kesehatan, laboratorium, serta pintu masuk karantina kesehatan di bandara.
“Kalau tindakan antisipasi memang ada untuk pengawasan diperketat di jalur masuk seperti di bandara,” ujarnya, Kamis (21/5).
Ia menjelaskan, pemeriksaan lanjutan baru akan dilakukan apabila ditemukan warga yang dicurigai atau menunjukkan gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus. Proses diagnosis tersebut akan mengikuti prosedur kesehatan yang berlaku.
“Jika ada warga yang terindikasi bergejala, tentu akan dilakukan pemeriksaan sesuai prosedur,” katanya.
Emirald juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang sumbernya tidak jelas dan berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Karena itu ia menyarankan untuk tetap merujuk pada informasi pemerintah melalui kanal atau saluran resmi dari dinas terkait maupun Kementerian Kesehatan.
Ia menjelaskan, hantavirus bukan merupakan penyakit baru. Menurutnya, penyakit tersebut memiliki karakteristik yang hampir serupa dengan leptospirosis dan selama ini sudah menjadi perhatian dalam pengawasan kesehatan masyarakat.
Penularan virus umumnya terjadi melalui kontak dengan kotoran atau urine tikus, terutama saat kondisi lingkungan tidak higienis, seperti banjir maupun genangan air setelah hujan.
Adapun gejala yang biasanya muncul antara lain mual, muntah, demam, serta gangguan saluran pernapasan seperti batuk dan flu. “Upaya kita adalah bagaimana menjaga kebersihan diri dan lingkungan,” ucap Emirald.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kota Mataram menekankan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat diimbau segera membersihkan diri menggunakan sabun setelah beraktivitas di area genangan air atau selokan, rutin mencuci tangan, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
Selain itu, warga juga diminta lebih waspada terhadap keberadaan tikus di lingkungan permukiman dengan menjaga sanitasi dan tidak membiarkan sampah menumpuk.
“Hingga saat ini, kami memastikan belum ada temuan kasus di wilayah Kota Mataram, dan kami tetap melakukan antisipasi di lapangan,” pungkasnya. (pan)


