BerandaNTBLOMBOK TIMURSekolah Rakyat, Selamatkan Irfan dari Mimpi Palsu Bekerja Jadi Buruh Migran Non-Prosedural

Sekolah Rakyat, Selamatkan Irfan dari Mimpi Palsu Bekerja Jadi Buruh Migran Non-Prosedural

Senyum tipis mengembang di wajah Irfan Sohandi ketika ia bercerita tentang masa depannya. Remaja 17 tahun itu kini duduk manis di bangku Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38, setelah sebelumnya nyaris terjebak dalam mimpi palsu menjadi buruh migran di negeri orang.


“Setelah lulus nanti, saya ingin coba peruntungan di menjadi tourism guide,” ujar Irfan saat ditemui Suara NTB di sekolahnya yang berada di Sakra, Kabupaten Lombok Timur, Senin (1/6/2026)
Bagi Irfan, sekolah ini adalah pintu terakhir harapan. Lahir 6 Oktober 2009 di Keruak, ia tak pernah merasakan belaian kasih ayah sejak usia dua tahun. Sang ayah pergi dan bercerai dengan ibunya. Hingga kini, tak ada satu pun panggilan atau pesan yang masuk. Irfan tinggal bersama kakek dan neneknya daei garis keturunan Ibunya.


Namun, takdir membawanya ke SRMA 38—sebuah sekolah yang menggabungkan pendidikan formal, asrama, dan panti asuhan dalam satu atap.


Di awal masuk, Irfan mengaku kewalahan. Jadwal kegiatan padat merayap dari pagi hingga pukul 10 malam. Tak ada kantin di lingkungan sekolah karena pihak pengelola sudah menentukan standar makanan bergizi.


“Awal-awal berat banget. Tapi lama-lama terbiasa,” kata Irfan.


Setiap pukul 7 pagi, sarapan sudah menanti. Makan tiga kali sehari, ditambah dua kali camilan. Yang membuatnya bersyukur, tiga bulan pertama ia mendapat susu tambahan.


Hasil pengasuhan terbaik dari pengaruh membuat Irfan mengaku kini lebih baik. Sebelumnya ia kurus. Tapi kini, menunjukkan kenaikan berat badan yang signifikan setelah program asupan gizi berjalan.


Irfan merupakan salah satu siswa berprestasi di SRMA 38 Lombok Timur ini. Salah satu mata lomba diikuti dari tingkat Kabupaten, Provinsi hingga nasional ia selalu membawa pulang medali.

Menyelamatkan Satu Demi Satu
Irfan kini tersenyum lebih lebar. Jika dulu ia membayangkan dirinya merantau sendiri ke negeri orang tanpa kepastian, kini ia melihat peta jalan yang lebih jelas: lulus sekolah, punya keterampilan, lalu magang, dan suatu hari bisa mandiri.


“Alhamdulillah, kemarin saya dapat medali emas di tingkat Olimpiade Pancasila kabupaten, kemudian medali perunggu di tingkat provinsi, dan alhamdulillah masuk ke tingkat nasional meraih juara tiga atau medali perunggu,” ujarnya.


Ia menceritakan bahwa lomba bergengsi tersebut merupakan Olimpiade Pancasila yang diadakan oleh Universitas Ganesha, Bali, sekitar setahun yang lalu. Lebih dari sekadar piala dan medali, ia mengaku mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga selama mengikuti ajang tersebut.


“Di sini, alhamdulillah, saya sudah memperoleh cara belajar, cara memperbaiki diri, mengevaluasi cara bersih diri, dan masih banyak lagi. Pokoknya saya sudah tidak bisa menyebutkan satu per satu, saking banyaknya yang saya dapatkan,” ungkapnya dengan penuh semangat.


Tidak hanya dalam bidang akademik, ia juga merasakan peningkatan signifikan pada kemampuan berbahasa Inggris. Hal ini menjadi modal utama baginya untuk mengejar cita-cita menjadi seorang pemandu wisata (tour guide).


“Saya gemar bahasa Inggris. Saya ingin mengejar cita-cita menjadi guide. Cita-cita sejak kecil, apalagi setelah masuk pondok pesantren. Saya diceritakan teman-teman, jadi guide itu tinggal mengarahkan turis ke sini, digaji,” tuturnya sambil tersenyum.


Menurutnya, pengalaman di pondok pesantren dan berbagai lomba telah membantunya menambah skill berbahasa serta pengetahuan secara umum. Ia berharap prestasi ini bisa menjadi awal untuk terus berkembang dan menggapai mimpi besarnya di dunia pariwisata.


Wakil Bidang Kesiswaan SRMA 38, Heru Hermansyah menjelaskan, tantangan terbesar bukan hanya fisik, tapi juga mental.


“Banyak yang kabur. Ada yang pulang jalan kaki. Rata-rata mereka yang mundur itu karena tak betah. Dari 125 siswa awal, kami ganti yang mundur. Menjalankan sekolah rakyat tidak mudah,” ungkap Heru.


Saat ini, jumlah siswa di SRMA 38 tercatat 125 orang, terdiri dari 65 laki-laki dan 60 perempuan. Mereka semua berasal dari kondisi ekonomi paling bawah.


“Kalau dari data yang saya pegang, memang mereka berasal dari desil satu dan desil dua—miskin ekstrem dan miskin. Jadi sesuai dengan arahan Bapak Presiden, yang diterima di sini memang dari desil satu dan desil dua,” tambah Heru.


Tapi Irfan bertahan. Dan ia mulai menunjukkan bakatnya. Setiap hari Jumat, ia mengikuti ekstrakurikuler English Club. Sekolah mendatangkan guru bahasa Inggris dan pelatih dari luar untuk membiasakan anak-anak berbicara. Selain itu, ada pramuka, PMR, paskibra, futsal, dan voli sebagai wadah menyalurkan bakat.


“Alhamdulillah, dari Oktober sampai Mei ini mereka sudah rutin bertemu. Sesi santai, tapi bertujuan membiasakan mereka berbicara bahasa Inggris,” tambah Heru.

Sentuhan Vokasi

Tak hanya akademik, kehidupan asrama di SRMA 38 dihidupkan dengan suasana Islami. Karena 100 persen siswa beragama Islam, pihak sekolah membiasakan salat lima waktu tepat waktu, mengaji berkelompok berdasarkan kemampuan membaca Al-Qur’an, dan program keagamaan lainnya.


“Anak-anak kita banyak yang kurang perhatian karena tinggal sama paman, bibi, atau kakek nenek. Pendidikan keagamaannya longgar. Kami kelompokkan dari yang masih terbata-bata sampai yang lancar. Alhamdulillah, tiga bulan ini mulai terlihat kemajuan,” kata Heru.


Namun yang paling membedakan adalah program vokasi. Irfan dan teman-temannya diberi pilihan: membatik, menjahit, melukis, bakery (membuat roti), instalasi listrik, hingga otomotif. Sekolah menggandeng beberapa SMK, BPVP Kemenaker di Lenek, dan bahkan berencana bekerja sama dengan dunia usaha dan industri lainnya.


Heru menjelaskan, visi besar sekolah ini adalah memutus rantai kemiskinan ekstrem. Banyak anak datang dengan keluhan: “Pak, saya dicap orang miskin. Saya diomongin tetangga.”


“Kami berharap dengan pendidikan SMA, kehidupan pesantren, dan keterampilan vokasi, anak-anak bisa mengubah nasib. Tidak kembali ke posisi orang tua mereka yang miskin ekstrem,” tegas Heru.


Yang menarik, selama anak-anak tinggal di SR, orang tua juga difasilitasi negara. Ada yang diberi modal usaha berupa uang, ada yang diberikan sembako, dan ada pula yang mendapat hewan ternak. Orang tua Irfan, misalnya, mendapatkan dua ekor kambing.


“Saat liburan, anak-anak tetap kami kunjungi. Tidak dibiarkan begitu saja. Pemantauan karakter terus berjalan,” imbuh Heru.


Meski sekolah ini rintisan dan fasilitas masih terbatas, siswa sudah menggunakan laptop untuk mencari referensi dan mengerjakan tugas. Ujian pun sudah dipersiapkan berbasis komputer.
Irfan dan beberapa temannya bahkan mulai berminat belajar bahasa Jepang. Pihak sekolah pun merespons positif.


“Ke depan kami akan minta diajari bahasa Jepang. Banyak anak yang mau bekerja ke Jepang, tapi bukan sebagai buruh migran sembarangan. Kami ingin mereka punya bekal,” ujar Heru.


Tidak dipungkiri, banyak siswa yang bercita-cita kuliah. Namun keterbatasan biaya masih menjadi kendala. Karena itu, setelah lulus, SRMA 38 akan mencoba menjalin kerja sama dengan dunia usaha dan industri untuk menempatkan lulusannya magang, bahkan bekerja langsung.


Heru menutup perbincangan dengan sebuah pesan: “Kami ingin mengangkat derajat orang tua melalui anak-anak ini. Mereka tidak lagi dicap miskin. SRMA 38 hadir untuk memastikan itu. Sini mereka tidak lagi khawatir dengan orang tuanya. Mereka fokus belajar dengan maksimal, sehingga nanti setelah lulus, mereka tidak kembali seperti awal, tapi menjadi orang yang siap bekerja, siap melanjutkan sekolah, dan siap menjadi orang sukses di masa depan.”


Dari ruang kelas yang sederhana di pinggiran Lombok Timur, Irfan dan teman-temannya sedang menulis ulang masa depan—bukan sebagai buruh migran, tapi sebagai generasi yang siap bersaing dengan bekal ilmu, iman, dan keterampilan. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO