BerandaPENDIDIKANTingkat Literasi Numerasi Siswa SMP Memprihatinkan

Tingkat Literasi Numerasi Siswa SMP Memprihatinkan


Mataram (Suara NTB)
– Kondisi literasi dan numerasi siswa SMP di Mataram masih memerlukan perhatian serius. Pasalnya, kemampuan siswa pada dua bidang tersebut tergolong cukup memprihatinkan.


Hal itu dibuktikan dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 jenjang SMP di Mataram. Pada Bahasa Indonesia, rerata nilai TKA SMP di Mataram 64,10, lebih tinggi dari rerata nasional 60,83. Kemudian pada Matematika nilai rerata 41,51, sementara nilai rerata nasional 40,34.
Meski berada di atas rerata nasional, persoalan literasi dan numerasi siswa SMP masih menjadi catatan. Dari 6.395 peserta, pada mata pelajaran Matematika hanya dua orang siswa mendapat predikat istimewa dan 740 siswa predikat baik. Sementara itu, sekitar 4.465 siswa kategori memadai dan sebanyak 1.118 kategori kurang.


Pada Mapel Bahasa Indonesia, hanya 55 siswa kategori istimewa dan 785 siswa kategori baik. Sementara, sebanyak 3.344 siswa kategori memadai dan sekitar 1.213 siswa kategori kurang.


Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram, Syarafudin menyebut ada beberapa faktor yang menyebabkan capaian literasi dan numerasi yang kurang. Di antaranya, model pembelajaran yang masih kurang beragam, kemudian kompetensi guru, hingga fasilitas dan sarana prasarana (Sarpras).


Seperti halnya pada aspek model pembelajaran yang menurut Syarafudin, perlu mendapat perbaikan dan pembaruan. Dengan demikian, proses pembelajaran di dalam kelas lebih menyenangkan tanpa mengurangi esensi pembelajaran.


“Dalam arti, kita akui harus kita benahi. Mungkin pembelajarannya, proses pembelajaran di sekolah. Kemudian apa yang harus diperhatikan sama teman-teman perbaikan ke depan, hasilnya seperti apa,” tuturnya.


Kemudian menyangkut kompetensi guru, Syarafudin berpandangan, setiap guru memiliki kompetensi yang memadai sebagai tenaga pendidik. Namun demikian, untuk meningkatkan mutu pembelajaran di dalam kelas, diperlukan penyegaran pada setiap guru di sekolah.

“Jadi misal kalau kompetensinya, sudahlah, mereka sudah sesuai dengan kompetensinya. Tapi kan harus ada penyegaran, karena ilmu itu berkembang,” terang Syarafudin.


Selain dua aspek di atas, keberadaan fasilitas dan sarana prasarana sekolah yang belum semua memadai juga ditengarai menjadi faktor rendahnya capaian siswa pada literasi dan numerasi.


Kendati capaian siswa pada literasi dan numerasi masih kurang, Syarafudin berharap hasil TKA ini menjadi basis data untuk memetakan kebijakan pendidikan yang lebih baik ke depan.


“Hasil TKA jadi basis data pemetaan kebijakan untuk perbaikan ke depan. Apa yang harus kita perbaiki. Ternyata anak-anak kita sekitar 19 persen masih kemampuannya kurang,” pungkasnya. (sib)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO