Dompu (Suara NTB) – Kuota gas elpiji 3 kilogram untuk Kabupaten Dompu tahun 2026 hanya 5.495 MT atau berkurang 1.095 MT dibandingkan tahun 2025. Memasuki musim kemarau, permintaan gas elpiji semakin tinggi akibat ada pemanfaatan lain oleh warga seperti sebagai bahan bakar menyedot air irigasi dan lainnya.
Kondisi ini dimanfaatkan pedagang untuk menjualnya di atas Harga Ecerah Tertinggi (HET) ketetapan pemerintah sebesar Rp18 ribu hingga Rp19.500 per tabung. Kenaikan harga yang dimulai dari pangkalan resmi hingga Rp25 ribu per tabung ini menyababkan harga di tingkat pengecer tidak resmi melambung antara Rp40 ribu hingga Rp70 ribu per tabung.
Menyikapi ini, pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Dompu mengajukan penambahan extra dropping elpiji 3 kilogram ke Sales Area Manager PT Pertamina NTB di Mataram melalui suratnya bernomor: 500.10.7.6/101/EKONSDA/2026 tanggal 9 Juni 2026.
Dalam surat yang ditandatangani Plh Sekda Dompu, H. Khairul Insyan, SE., MM., ini menyebutkan, elpiji subsidi sebagai barang penting dan memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat. Sehingga ketersediaannya harus tetap terjaga dalam jumlah cukup dan harga terjangkau sesual HET.
Kondisi ini disebutkan akibat terbatasnya distribusi elpiji 3 kilogram. Berdasarkan data distribusi Mei hanya 393,24 MT, yang mana jumlah tersebut lebih rendah 21, 15 persen dibanding penyaluran bulan April atau lebih rendah 26,39 persen dibandingkan bulan Maret.
Karenanya, Pertamina diminta dukungan dan kerjasamanya agar kuota penyaluran Juni ini dilakukan penyaluran extra dropping atau fakultatif untuk mengantisipasi potensi meluasnya masalah distribusi elpiji 3 kilogram di Kabupaten Dompu. “Menambah hari penyaluran untuk setiap pangkalan, terutama yang hanya satu hari per minggu menjadi dua-tiga hari per minggu,” harapnya.
Pada Februari 2026 lalu, Pemda Dompu juga pernah mengajukan surat ke Pertamina terkait berkurangnya kuota elpiji subsidi 3 kilogram dan meminta untuk memastikan pasokan selama Ramadhan dan musim panen tetap tersedia agar tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. (ula)


