Mataram (Suara NTB) – Lembaga Pengembangan Dharma Gita (LPDG) Kota Mataram, secara resmi membukaUtsawa Dharma Gita (UDG) tingkat kecamatan se-Kota Mataram pada, Minggu (21/6). Festival lomba baca Weda dan Dharma Gita diikuti oleh 247 peserta dari berbagai jenjang mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah atas, pasraman hingga kategori umum se-Kota Mataram.
Camat Cakranegara, Irfan Syafindra Soeratin memberikan apresiasi yang tinggi kepada LPDG dan para guru atau pasraman yang terus membina generasi muda melalui Weda. “UDG bukan sekadar lomba. Ini adalah upaya kita untuk menanamkan sradha dan bhakti sejak dini. Anak-anak yang hari ini berani tampil di depan, kelak akan menjadi generasi yang menjaga dharma,” ujarnya.
Sementaraitu, Ketua LPDG Kota Mataram,Ida Wayan Putra Ekantara, SSTP,.MH., menjelaskan bahwa UDG tingkat kecamatan ini merupakan gerbang seleksi. Peserta yang meraih juara dari setiap kategori berhak mewakili kecamatan masing-masing untuk berlaga di UDG Tingkat Kota Mataram. Festival tingkat kota akan diselenggarakan pada September 2026. Dari tingkat kota, pemenang terbaik akan melaju ke UDG Tingkat Provinsi NTB, dan selanjutnya berjuang di UDG Tingkat Nasional yang direncanakan berlangsung di Palu, Sulawesi Tengah di tahun 2027.
“Target kami bukan hanya juara, tetapi lahirnya duta-duta dharma yang paham isi Weda, bukan hanya suaranya. 247 anak hari ini adalah investasi untuk 10-20 tahun kedepan bagi Hindu di Mataram,” tegas Putra
Lomba yang digelar di SDN 2 Cakranegara ini berlangsung selama satu hari penuh dengan berbagai kategori yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis lomba. Dewan juri yang bertugas terdiri dari para pinandita dan pelatih Dharma Gita berpengalaman di Kota Mataram. Penilaian difokuskan pada aspek swara (suara), wirama (irama), wiraga (gerakan) wiasta (penampilan), dan penghayatan.
Kasi Bimas Hindu Kemenag Kota Mataram, Ni Wayan Sri Ningsih yang hadir juga menekankan pentingnya kesinambungan pembinaan pasca-UDG. “Anak-anak ini harus terus diasah. Kemenangan sejati UDG adalah ketika mereka menjadikan Weda sebagai pedoman hidup sehari-hari, bukan hanya saat lomba,” jelasnya. (r/cem)

