BerandaNTBPerkuat Kolaborasi Global, Unram Jadi Pusat Dialog Internasional Konservasi Rumput Laut dan...

Perkuat Kolaborasi Global, Unram Jadi Pusat Dialog Internasional Konservasi Rumput Laut dan SDGs lewat Global Seaweed-PROTECT 2026

Mataram (Suara NTB) – Universitas Mataram (Unram) kembali menegaskan perannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kolaborasi internasional melalui penyelenggaraan International Seminar on Marine Biodiversity, Biotechnology, and Blue Economy Collaboration yang berlangsung di Ruang Sidang Senat, Rektorat Unram, pada Senin (22/6).

Seminar yang diselenggarakan oleh International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) Unram ini menjadi bagian dari inisiatif Global Seaweed PROTECT, sebuah kolaborasi internasional yang melibatkan berbagai institusi terkemuka dunia, termasuk Natural History Museum Inggris, Scottish Association for Marine Science (SAMS), dan Universiti Malaya, Malaysia.

Mengangkat tema konservasi rumput laut, keanekaragaman hayati laut, bioteknologi, dan ekonomi biru, forum ini mempertemukan para ilmuwan, peneliti, akademisi, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas peran strategis rumput laut dalam menjawab tantangan global, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga pembangunan berkelanjutan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unram, Dr. Sitti Latifah, S.Hut., M.Sc.Forest.Trop., dalam sambutannya menegaskan, rumput laut tidak dapat lagi dipandang semata sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai sumber daya strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, pengembangan sektor rumput laut memiliki keterkaitan erat dengan berbagai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). “Universitas Mataram berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi riset dan kemitraan global dalam pengembangan rumput laut. Melalui forum ini, kami ingin mendukung kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, berkontribusi pada pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dan petani rumput laut,” ujarnya.

Global Seaweed-PROTECT 2026 Hadirkan Pakar Terkemuka

Seminar ini menghadirkan sejumlah pakar terkemuka dunia di bidang rumput laut dan ekosistem laut. Prof. Juliet Brodie dari Natural History Museum, Inggris, membahas implementasi aksi global untuk konservasi rumput laut melalui inisiatif Seaweed Breakthrough, sementara Prof. Elizabeth Cottier-Cook dari Scottish Association for Marine Science (SAMS) memaparkan hasil penelitian GlobalSeaweed-SUPERSTAR/PROTECT terkait pengetahuan, persepsi, dan praktik konservasi rumput laut di Indonesia dan Malaysia. Selain itu, Prof. Lim Phaik Eem dari Universiti Malaya, dan Dr. Niko Howarth dari SAMS.

Dalam sesi pengantar program, Dr. Eka S. Prasedya menjelaskan, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam industri rumput laut global. Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok dan menjadi produsen utama rumput laut tropis dunia, dengan sekitar 1,2 juta rumah tangga yang menggantungkan penghidupannya di sektor ini.

Besarnya potensi tersebut, menurutnya, harus diiringi dengan penguatan riset, inovasi, dan strategi konservasi yang mampu menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat pesisir.

Seminar ini merupakan bagian dari GlobalSeaweed-PROTECT, program kolaborasi internasional yang didanai oleh UK Research and Innovation (UKRI) Biotechnology and Biological Sciences Research Council (BBSRC) melalui skema Sustainable and Resilient Aquaculture Systems in Southeast Asia.

Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan jangka panjang masyarakat pembudidaya rumput laut di Asia Tenggara melalui penguatan industri rumput laut yang produktif, tangguh terhadap perubahan iklim, memiliki sistem biosekuriti yang kuat, serta mampu melindungi keanekaragaman rumput laut alami. Untuk mencapai tujuan tersebut, GlobalSeaweed-PROTECT berfokus pada empat bidang utama, yaitu konservasi dan keanekaragaman hayati rumput laut, penguatan ketahanan rumput laut terhadap dampak perubahan iklim, peningkatan biosekuriti dalam sistem budidaya, serta pengembangan solusi berbasis pengetahuan lokal untuk mendukung restorasi dan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. (ron/*)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO