BerandaNTBLOMBOK TIMURMusim Tanam Tembakau, Petani di Lombok Timur Diimbau Perkuat Struktur Lahan Antisipasi...

Musim Tanam Tembakau, Petani di Lombok Timur Diimbau Perkuat Struktur Lahan Antisipasi Gagal Panen

Selong (Suara NTB) – Musim tanam tembakau tahun 2026 sudah mulai. Tahun 2025 lalu luas lahan tanam tembakau mencapai 25 ribu hektare. Diprediksi tahun ini juga sama. Perubahan iklim yang tidak menentu kian menjadi tantangan berat bagi sektor pertanian di Kabupaten Lombok Timur (Lotim).

Di tengah prediksi fenomena El Nino oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan lebat anomali justru sempat mengguyur wilayah tersebut pada awal Mei 2026 lalu. Akibatnya, puluhan hektare tanaman tembakau yang baru ditanam dilaporkan rusak dan mati akibat genangan air.

“Soal data berapa luas areal tanam tahun ini masih belum kami rekapitulasi,” terang Kepala Bidang Pekebunan Dinas Pertanian (Dinpertan) Lombok Timur, Mirza Sophian. Ia menyampaikan hal tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (29/6/2026).

Mirza mengungkapkan dampak perubahan iklim ini sebenarnya bukan hal baru. Dinpertan sendiri telah gencar melakukan sosialisasi sejak tahun 2023. Selain itu, sosialisasi dilakukan berkaca dari pengalaman pahit tahun lalu di mana sekitar 4.000 hektare lahan tembakau terdampak parah akibat cuaca ekstrem.

Menurutnya, mitigasi itu sangat penting dilakukan budi daya tanaman tembakau dengan baik dan benar. “Tembakau ini tanaman yang tidak membutuhkan air yang banyak dan bahkan bisa terganggu pertumbuhannya ketika terkena (genangan). Selain itu, tembakau juga tidak boleh terlalu kering,” ujar Mirza.

Kerusakan Biasanya Ditemukan di Daerah Dataran Tinggi

Menurut Mirza, kerusakan parah banyak ditemukan di daerah dataran tinggi seperti Kecamatan Suwela. Selain karena curah hujan yang cukup tinggi di kawasan tersebut, pola budi daya petani setempat dinilai masih rentan terhadap genangan air. Banyak petani yang belum membuat bedengan yang cukup tinggi dan masih mengandalkan mulsa jerami.

Petani yang tidak membuat bedengan meninggikan tanah untuk tembakaunya supaya tidak terlalu terdampak terhadap genangan. Yang kedua, mereka di sana masih menggunakan mulsa jerami. Jerami itu menyimpan air, kalau kena hujan dia akan lama keringnya sehingga kelembabannya akan berlebih dan itu akan merusak akar.

Menyikapi cuaca yang tidak menentu, sebagian petani di Lombok Timur memilih strategi aman dengan memundurkan jadwal masa tanam guna menghindari risiko kerugian di fase awal pertumbuhan. Terkait potensi dampak mundurnya masa tanam terhadap harga jual di pasar, Mirza menegaskan bahwa hal tersebut tidak saling mempengaruhi.

“Kalau harga itu terkait dengan kualitas, tidak ada urusan sama kapan tanam. Kita bicara kualitas tembakau, harga tergantung kualitas,” tegas Mirza.

Saat ini, lanjutnya, wilayah Suwela didominasi oleh tembakau rakyat rajangan jenis kasturi. Sementara itu, wilayah selatan didominasi oleh jenis tembakau rajangan, seperti Hibrida jenis Virgina dan lainnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga sedang mendorong program swasembada pangan dengan menggalakkan tanam padi dua kali bagi wilayah yang memiliki irigasi mencukupi. Oleh sebab itu, pola ini membuat sebagian petani baru akan beralih menanam tembakau setelah masa panen padi kedua selesai.

Tantangan Pemangkasan Anggaran

Di tengah situasi krusial ini, Dinas Pertanian Lombok Timur dihadapkan pada tantangan pemangkasan anggaran penanganan dari pemerintah pusat secara signifikan. Jika pada tahun lalu bidang perkebunan mendapatkan alokasi hampir Rp5 miliar, tahun ini anggaran menyusut drastis menjadi hanya sekitar Rp1 miliar.

Musim Tanam 2026, pupuk bisa memberikan kepada 15 kelompok, tahun lalu bisa sampai 40-an atau 60-an kelompok. Anggaran kita berkurang. Bantuan yang ada sekarang untuk petani masih dianggarkan sekitar 1 miliar di bidang perkebunan. Itu kami sudah salurkan semua bantuan pupuk, perbenihan, kemudian pestisida.

Mengenai kompensasi atau asuransi bagi petani tembakau yang gagal panen, Mirza menjelaskan bahwa program tersebut belum berjalan layaknya asuransi pertanian pada komoditas padi. Namun, pihak eksekutif bersama Bappeda telah memulai langkah awal sejak tahun lalu.

Tembakau belum pernah ada asuransi. Kami sudah menginisiasi sebenarnya dengan Bappeda tahun lalu, proses awalnya itu kan membuat kajian. Asuransi untuk tembakau itu sebenarnya dimungkinkan untuk digaet melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Mengakhiri keterangannya, Mirza memberikan imbauan mendalam kepada seluruh petani tembakau di Lombok Timur agar lebih mengedepankan aspek mitigasi teknis di lahan pertanian masing-masing, meski harus mengeluarkan biaya ekstra di awal operasional. Oleh karena itu, estimasi kerugian petani pada fase awal tanam saat ini ditaksir mencapai Rp5 juta per hektare.

Kondisi cuaca yang tidak menentu dan hujan juga tidak bisa kita prediksi, hanya Allah yang tahu kapan Dia menurunkan hujan dan di mana. Jadi langkah antisipasi berupa mitigasi itu sangat perlu. Walaupun itu membutuhkan cost (biaya) yang lebih besar, tapi itu bisa menyelamatkan dari kerugian yang besar. Sebagai tambahan, disarankan petani membuat  drainase yang baik supaya air itu cepat turun. (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO