Mataram (Suara NTB) – Lima Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Mataram masih bisa menerima limpahan siswa meski Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) sudah ditutup. Lima sekolah tersebut di antaranya SMAN 7 Mataram, SMAN 9 Mataram, SMAN 8 Mataram, SMAN 10 Mataram, dan SMAN 11 Mataram.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB, Syamsul Hadi mengatakan untuk mengisi kekurangan siswa, pihaknya mengarahkan masyarakat agar bisa mendaftar ke sekolah yang masih memiliki kuota.
“Karena memang peminatnya. Tapi kan tentu kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan orang di sekolah yang diinginkan,” ujarnya, Kamis, 9 Juli 2026.
Diakuinya, lima sekolah ini dinilai kurang “favorit” oleh masyarakat, ke depan Dikpora mengatakan akan melakukan intervensi sejumlah program Dinas Dikpora agar sekolah-sekolah tersebut bisa menjadi pilihan masyarakat.
Di samping lima sekolah yang kekurangan peminat, beberapa sekolah dikatakan sudah full jauh sebelum SPMB ditutup. Seperti SMAN 1 Mataram, SMAN 2 Mataram, SMAN 3 Mataram, dan SMAN 5 Mataram. “Iya tidak bisa lagi menerima,” katanya.
Hingga kini, sejumlah calon siswa kata Syamsul belum memiliki sekolah. Untuk itu, pihaknya mengarahkan calon siswa ini untuk mendaftar di sekolah terdekat dengan domisili. Misalnya, bagi siswa yang berdomisili di bagian Selatan Mataram bisa mendaftar di SMAN 10 Mataram, di tengah kota bisa mendaftar di SMAN 9 Mataram dan seterusnya.
“SMA 7 Mataram di bagian utara, kemudian di pinggiran timur itu SMA 11. Jadi menyebar, ya kita arahkan kalau ada yang minta kita tanyakan anaknya alamatnya di mana, kita arahkan ke situ,” terangnya.
Adapun ia juga mengimbau para orang tua calon siswa untuk bersikap realistis dan memanfaatkan kuota kosong di sekolah-sekolah terdekat yang belum terpenuhi. Selain mutunya yang kini terus digenjot agar setara, memilih sekolah yang belum penuh juga menjadi solusi logis agar anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan tanpa harus melanggar aturan administrasi kependudukan.
“Sebenarnya tidak juga itu, hanya kemudian image saja sebenarnya itu. Ya saya melihat bahwa banyak juga kan justru guru-guru yang hebat itu tidak di sekolah favorit. Kalau memang pemahaman masyarakat bahwa guru hebat itu linier dengan hasil belajar siswa,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihak Dikpora NTB juga berkomitmen untuk menghindari skema kelas pagi-sore (double shift) di sekolah yang kelebihan muatan. Dinas ingin memastikan bahwa distribusi siswa berjalan merata ke seluruh sekolah yang ada.
“Ya kita hindari seperti itu kecuali di satu kondisi-kondisi tertentu, emergency gitu ya. Misalnya tadi kalau ternyata ada anak yang tidak sekolah memang hanya itu-itunya sekolah. Ya apa boleh buat, karena bagi kita yang utama itu adalah anak-anak sekolah. Kan gitu ya,” pungkasnya. (era)

