BerandaNTBLOMBOK TIMURTantangan Cuaca Ekstrem, Petani Tembakau Diingatkan Tidak Salah Cara Budi Daya

Tantangan Cuaca Ekstrem, Petani Tembakau Diingatkan Tidak Salah Cara Budi Daya

Selong (Suara NTB) – Fenomena El Nino yang berkepanjangan hingga awal tahun 2027 menjadi tantangan tersendiri bagi para petani tembakau di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) pada musim tanam 2026 ini. Di tengah kondisi cuaca ekstrem tersebut, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lotim, Mirza Sophian, mengingatkan para petani agar tidak salah dalam cara budi daya.


Peringatan ini menyusul kejadian gagal panen yang dialami salah satu petani di Kecamatan Jerowaru. Mirza Sophian menjelaskan, seorang petani di Jerowaru menanam tembakau di atas lahan seluas 50 are.


Saat usia tanaman baru beberapa pekan, petani tersebut meracik sendiri pestisida yang kemudian disemprotkan ke tanamannya. Tidak lama setelah penyemprotan, ia pergi meninggalkan lahannya ke Jawa. Beberapa hari kemudian, tanaman tembakau tersebut menguning dan rusak total.
“Iya dia racik sendiri, terus dia semprot. Habis semprot, dia tinggal ke Jawa. Ternyata efeknya begitu,” ujar Mirza menirukan pengakuan petani tersebut, menjawab Suara NTB, Selasa (21/6/2026).


Menurutnya, kesalahan dalam meracik pestisida mengakibatkan tanaman tidak bisa diselamatkan. “Saya lihat sudah kuning semua, susah diselamatkan karena efek pestisida yang dia racik,” tegasnya.


Mirza menambahkan bahwa petani tersebut tidak pernah berkomunikasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat. Untuk itu, ia mengimbau agar para petani selalu berkoordinasi dengan PPL masing-masing sebelum menggunakan pestisida. “Mungkin bisa berkoordinasi dengan PPL masing-masing karena mereka kan sudah dilatih. Tahu jenis pestisida apa yang cocok tergantung serangan apa yang dialami oleh tembakau,” jelas Mirza.


Meskipun cuaca ekstrem melanda, Mirza memastikan bahwa kekeringan belum menjadi kendala utama karena para petani masih memiliki embung untuk mengairi tanaman. Bahkan, ia menyebutkan bahwa cuaca panas justru menjadi kondisi yang diinginkan tanaman tembakau. “Dia (tembakau) butuh air tapi tidak banyak. Justru kondisi cuaca seperti ini yang diinginkan tembakau,” ungkapnya.


Petani tembakau di wilayah Lotim bagian selatan ini memang tetap butuh air. Petani diminta bisa lebih irit menggunakan air embungnya. Pastikan sampai masa panen Agustus dan September mendatang, kebutuuan air mencukupi.


Untuk wilayah seperti di Seriwe Jerowaeu, beberapa petani bahkan sudah mulai memasuki masa panen karena mereka menanam lebih awal, dengan cara menyelipkan tanaman tembakau di antara tanaman jagung. Mirza juga menegaskan bahwa kualitas tetap menjadi penentu utama harga jual tembakau, terlepas dari mundurnya masa tanam.


Dinas Pertanian Lotim berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh petani agar lebih berhati-hati dalam menggunakan pestisida dan selalu mendampingi tanamannya dengan baik, terutama di tengah tantangan cuaca ekstrem seperti El Nino saat ini. (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO