PEMERINTAH Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mempertimbangkan tanaman kelor dan kulit udang jadi solusi protein unggas. Rencananya, pakan jagung yang menjadi makanan utama ternak unggas akan digabungkan dengan kelor sebagai salah satu sumber protein untuk ternak tersebut.
Demikian disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB, I Gede Putu Ariyadi, Kamis, 23 Juli 2026.
Saat ini, pihaknya bersama dengan BRIN berencana untuk melakukan riset bagaimana skema menjadikan kelor maupun kulit udang sebagai opsi protein ternak. “Kita punya banyak bahan baku, kita punya kelor dan kulit udang,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini NTB melakukan impor bungkil kedelai sebagai tambahan protein pada ternak unggas. Nilai impor tersebut dinilai cukup tinggi, padahal NTB bisa memaksimalkan potensi yang ada di daerah seperti tanaman kelor dan kulit udang yang selama ini diekspor ke luar negeri.
“Sehingga itu kita selama ini jagungnya kita kirim keluar. Padahal kita pusat jagung. Nah, di tahun ini memang sudah ada kesepakatan dengan BRIN. BRIN sudah melakukan pemetaan awal,” katanya.
Setelah proses riset ini, Pemprov NTB, kata Gede menginginkan adanya hilirisasi pakan dengan protein di NTB. Sebelum itu, pihaknya perlu melakukan riset mengenai kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk membangun pabrik pakan, mulai dari teknologi, mutu jagung, dan proses menjadikan kelor atau kulit udang menjadi protein pada pakan.
“Kalau namanya pakan itu harus dilihat dari proses budidaya, sehingga mutunya bisa kita tentukan. Sama dengan budidaya ikan. Karena untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai ya dimulai dari itu, ada data informasi yang valid,” jelasnya.
Berdasarkan riset awal Pemprov NTB bersama dengan Unram, Mantan Kadisnakertrans NTB itu mengungkapkan kelor, lamtoro, dan kulit udang sangat berpotensi menjadi sumber protein utama pada ternak unggas. Termasuk juga dengan sisa ikan yang tidak dapat dioptimalkan. Namun, pada prosesnya harus adanya hasil riset untuk memastikan pakan dengan protein tersebut aman dikonsumsi oleh unggas.
“Selama ini tepung ikan yang dibuat oleh masyarakat itu kan tepung ikan limbah. Kalau limbah mungkin ada bakteri kan. Jadi harus ada prosesnya dulu,” bebernya.
Adapun saat ini, NTB tengah merancang hilirisasi jagung. Sebagai salah satu sentra produksi jagung nasional, NTB memiliki potensi besar untuk dikembangkan, tidak hanya sebagai komoditas primer, tetapi juga sebagai basis hilirisasi pangan, pakan ternak, energi biomassa, dan produk turunan bernilai tambah.
Namun, pengembangan jagung di NTB masih menghadapi beberapa persoalan utama, yaitu dominasi penjualan bahan mentah, fluktuasi harga saat panen raya, keterbatasan pengeringan dan penyimpanan, biaya logistik ke luar daerah, mutu bahan baku yang belum seragam, serta belum optimalnya integrasi jagung dengan industri pakan, peternakan unggas, dan pemanfaatan limbah biomassa.
Berdasarkan data resmi BPS Provinsi NTB, produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen pada tahun 2025 mencapai 1,18 juta ton dengan luas panen 173,09 ribu hektare. Angka ini perlu dijadikan data resmi dalam penyusunan kebijakan.
Sementara itu, di beberapa pernyataan, pemerintah menyebut potensi produksi sekitar 2 juta ton per tahun. Perbedaan angka tersebut perlu diklarifikasi melalui konsolidasi data antara BPS, dinas teknis, pelaku usaha, dan off-taker agar perencanaan kapasitas hilirisasi tidak mengalami over-estimation maupun under-estimation.
“Dalam konteks tersebut, BRIN dapat berperan sebagai penyedia dukungan ilmiah, teknologi, validasi mutu, pemetaan sumber daya, desain proses, serta penguatan ekosistem inovasi daerah,” pungkasnya. (era)

