Selong (Suara NTB) – Gema Alam dan Woman Reserach Institut (WRI) mendorong perbaikan ekosistem kawasan hutan Sambelia yang saat ini mengalami kerusakan parah. Akibat kerusakan itu, masyarakat mengalami kesulitan air bersih dan sejumlah masalah lainnya
Human Resource (HR) Gema Alam, Diar Ruly Juniari, kepada wartawan di sela pertemuan Multipihak di Selong, Kamis (23/7), menjelaskan di balik hamparan ladang jagung yang menghijau di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, tersimpan cerita pilu tentang hutan yang perlahan menghilang. Kawasan hutan yang dulu rimbun dengan pohon-pohon besar kini berubah menjadi lahan kritis. Pohon sengon, sonokling, dan jati berganti tongkol jagung, sementara sumber-sumber air mulai mengering.
Dari hasil patroli pemantauan kawasan hutan selama Mei-Juni 2026, sekelompok perempuan dari Desa Sambelia dan Sugian menemukan fakta mencengangkan. Di lima titik yang dipantau di kawasan Notan, kondisi hutan memprihatinkan. “Pohon tegakan sudah tidak ada, tutupannya sudah tidak ada. Pohon-pohon besar sudah hilang,” ujar Ary
Luas kawasan hutan kemasyarakatan (HKm) Sambelia yang dikelola di Sugian dan Belanting mencapai 420 hektare. Namun dari hasil pemetaan, kerusakan parah terjadi di lebih dari 200 hektare. Bahkan Diar menegaskan kerusakan total kemungkinan sudah melampaui angka tersebut.
Dulu, sekitar tahun 2008-2010, kawasan ini masih rimbun dengan pohon tegakan didominasi sonokling, sengon, jati, dan berbagai jenis kayu lainnya. Kini yang tersisa hanya semak belukar dan beberapa pohon mente serta turi yang dimanfaatkan warga untuk diolah.
Perubahan drastis ini terjadi akibat alih fungsi lahan hutan menjadi ladang jagung. Lahan jagung di kawasan hutan lindung dan hutan produksi Sambelia serta Sugian kini mencapai hampir 203 hektare. Masyarakat beralih menanam jagung karena kepastian ekonomi yang lebih jelas.
“Dulu banyak sengon, tetapi tidak ada kepastian dari pemerintah—sengon ini mau diapakan, mau dijual ke mana? Tidak ada kepastian untuk memberikan akses kepada masyarakat,” kenang Diar.
Proses perizinan menebang kayu yang berbelit-belit dan lama membuat masyarakat enggan menanam kayu lagi. “Saya ingat betul dulu besar-besar pohonnya, tapi karena tidak ada perizinan dan perizinannya pun lama,” tambahnya.
Meskipun jagung memberikan keuntungan ekonomi—bisa mencapai ratusan juta rupiah sekali panen—dampaknya terhadap lingkungan sangat merusak. Ekosistem air terganggu, sumber-sumber mata air yang dulu mengalir sepanjang tahun kini hanya muncul di musim hujan.
“Teman-teman di Sugian dan Sambelia bercerita, dulu air sungai mengalir setiap musim. Tapi karena alih fungsi lahan menjadi ladang jagung, sekarang menjadi musiman,” jelas Diar.
Bahkan di musim kemarau seperti sekarang, warga kesulitan mendapatkan air. Padahal generasi tua di Sambelia masih ingat sungai-sungai jernih yang dulu memungkinkan mereka menginap berhari-hari di kawasan hutan tanpa kesulitan air.
Kerusakan hutan juga berdampak pada mata pencaharian tradisional warga, terutama mencari madu. “Sejak hutan rusak, sekarang mereka jauh ke dalam untuk cari madu. Yang dulunya masih bisa di sekitar belakang rumah, sekarang harus sampai menginap tiga hari di dalam kawasan hutan,” tutur Diar.
Perempuan Jadi Garda Terdepan
Di tengah keprihatinan ini, muncul angin segar. Women Research Institute (WRI) bersama Gema Alam memberdayakan kelompok perempuan di Desa Sugian dan Sambelia untuk memantau kondisi hutan melalui program bernama Wise Watch.
“Tujuannya mendorong agar perempuan-perempuan lokal bisa melakukan pemantauan hutan dan mengadvokasikan data berdasarkan hasil temuan,” jelas Program Manajer Women Research Institute, Benita Nasfami.
Dengan memanfaatkan aplikasi Forest Watcher dari Global Forest Watch, para perempuan ini mencatat setiap temuan di lapangan. Mereka lalu berdiskusi dan menyusun advokasi untuk mendorong perbaikan.
“Kenapa perempuan? Karena selama ini perempuan akar rumput tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan kebijakan pengelolaan hutan, padahal mereka sehari-hari bergelut dengan kebun dan ladang,” tegas Benita.
Meski menanam jagung menguntungkan dalam jangka pendek, para perempuan di Sambelia mulai menyadari konsekuensi jangka panjangnya.
“Mereka sudah menyadari bahwa kondisi ini tidak bisa terus dipertahankan—harus ada pohon tegakan,” ujar Benita. “Kami bangun perlahan-lahan kesadaran itu.”
Harapan mereka jelas, mengembalikan fungsi hutan agar sumber air tetap ada, sehingga tidak lagi kesulitan mengambil air saat musim tanam tiba. Mereka ingin sungai-sungai jernih kembali seperti dulu, dan madu Sambelia bisa lagi ditemukan di sekitar rumah.
Kelompok perempuan ini mengusulkan solusi konkret: edukasi masyarakat pengelola hutan, reboisasi dengan bibit berkualitas, dan pendampingan intensif dari pemerintah.
“Jangan hanya kasih bibit, ditanam, lalu ditinggal. Itu sering terjadi sejak 2015, makanya tidak ada yang hidup. Harus ada pendampingan, edukasi, bagaimana perawatan dan pemeliharaan,” kritik Diar.
Mereka juga meminta kepastian dari pemerintah terkait perizinan kayu dan alternatif ekonomi yang berkelanjutan. Bukan sekadar sengon dan sengon lagi, tetapi tanaman produktif yang bisa memberi pendapatan harian, bulanan, hingga tahunan.
“Kami tidak muluk-muluk. Masyarakat tetap membutuhkan kepastian. Kami ingin ada alternatif ekonomi—tanaman yang bisa dijual langsung untuk pendapatan bulanan atau harian, dan tanaman lain yang panen tiga bulanan,” tutup Benita. (rus)

