Mataram (Suara NTB) – Upaya menjaga harga pangan tetap terkendali terus dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi NTB. Salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Mataram.
Kegiatan ini melibatkan Bank Indonesia Provinsi NTB, pemerintah daerah, serta anggota TPID ini bagian dari Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Strategis (GPIPS) Wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra) 2026.
Fokusnya bukan sekadar menjual bahan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga memperkuat rantai pasok pangan dari sisi produksi hingga distribusi.
GPM di Pasar Pagesangan menyediakan 16 komoditas pangan strategis dengan harga terjangkau. Di antaranya beras SPHP, Minyak Kita, gula pasir, telur ayam, serta berbagai komoditas hortikultura yang dihasilkan petani lokal.
Sejumlah pelaku usaha dan distributor turut dilibatkan, seperti Perum Bulog, Bale Bawang, PPI, Rajawali Nusindo, Rose Brand, UD Sinta, serta UMKM sektor pangan. Pelaksanaan GPM menerapkan prinsip 3T, yakni tepat waktu, tepat lokasi, dan tepat sasaran.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan pengendalian inflasi membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, dan masyarakat.
Sinergi tersebut diarahkan untuk memastikan pasokan pangan tersedia dan distribusinya berjalan lancar, terutama ketika menghadapi tantangan perubahan iklim serta dinamika aktivitas pariwisata.
Pengendalian inflasi, dalam konteks tersebut, tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas harga. Harga yang terkendali juga penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh anggota TPID NTB akan terus memperkuat implementasi GPIPS. Fokus diarahkan pada dua aspek utama, yakni ketersediaan pasokan (K2) dan kelancaran distribusi (K3).
Strategi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi NTB sesuai target nasional.
Dengan demikian, Gerakan Pangan Murah bukan hanya menjadi instrumen jangka pendek untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau. Lebih jauh, program tersebut menjadi bagian dari strategi TPID NTB membangun ekosistem pangan yang lebih kuat, mulai dari petani, produksi, distribusi, hingga konsumen.(bul)

