Praya (Suara NTB) – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengajak masyarakat Desa Tanah Beak, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, menjaga kelestarian lingkungan sekaligus merawat peninggalan sejarah yang terdapat di wilayah tersebut.
Pesan itu disampaikan Gubernur saat membuka Festival Mobok Balang (Menangkap Belalang) ke-4 Tahun 2026 di Desa Tanah Beak, Kecamatan Batukliang, Sabtu (8/8) malam.
Festival bertema “Semarak Kemerdekaan, Lestarikan Tradisi dan Kebersamaan” tersebut digelar dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Gubernur mengatakan Tanah Beak memiliki lingkungan alam yang masih terjaga dan menjadi bagian penting dari ekosistem masyarakat di wilayah tersebut maupun daerah di sepanjang aliran sungai di bawahnya.
“Alhamdulillah, akhirnya saya bisa hadir di sini. Sudah dua tahun saya berjanji sejak masa kampanye untuk datang, tetapi baru malam ini mendapat kesempatan. Saya senang sekali bisa melihat kegembiraan masyarakat Tanah Beak dan bersilaturahmi bersama,” ujar Gubernur.
Ia mengaku telah tertarik dengan kondisi Tanah Beak sejak pertama kali berkunjung sekitar tiga hingga empat tahun lalu. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki lingkungan yang asri, udara yang nyaman, serta masyarakat yang ramah.
“Lingkungan Tanah Beak masih luar biasa baik dan terjaga. Yang menikmati lingkungan sehat di sini bukan hanya warga Tanah Beak, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai di bawahnya,” katanya.
Karena itu, Gubernur meminta masyarakat menjaga kawasan tersebut dengan tidak menebang pohon sembarangan, menjaga sungai, dan tidak membuang sampah ke lingkungan.
“Jangan tebang pohon. Manfaatkan sungai, tetapi jangan dirusak. Jangan membuang sampah sembarangan. Kita ingin Tanah Beak tetap asri dan sehat, bukan hanya untuk kita, tetapi untuk generasi yang akan datang,” pesan Gubernur.
Selain lingkungan, Gubernur Iqbal menyoroti potensi sejarah Tanah Beak yang berkaitan dengan letusan Gunung Samalas pada 1257. Menurutnya, sejumlah situs dan benda peninggalan masa lalu masih ditemukan di wilayah tersebut.
“Tanah Beak merupakan salah satu tempat yang masih bisa menyaksikan dampak letusan Gunung Samalas pada abad ke-13. Di beberapa bagian masih terdapat situs-situs peninggalannya,” jelasnya.
Gubernur meminta masyarakat tidak merusak benda-benda bersejarah yang ditemukan dan segera melaporkannya kepada pemerintah melalui Dinas Kebudayaan untuk ditindaklanjuti.
“Kalau ada yang menemukan benda-benda dari masa lalu yang terkubur di sini, tolong diamankan. Nanti pemerintah akan membantu, kalau perlu masyarakat yang menemukan bisa diberikan kompensasi. Kita ingin bersama-sama merawat sejarah Tanah Beak,” ujarnya.
Menurut Gubernur, peninggalan sejarah tersebut bukan sekadar benda lama, tetapi menyimpan informasi mengenai kehidupan masyarakat pada masa lalu yang dapat menjadi pembelajaran bagi generasi saat ini.
“Banyak cerita di balik benda-benda yang ditemukan di sini. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Dari peninggalan itu kita bisa belajar bahwa Tanah Beak dahulu merupakan daerah yang sangat maju,” ungkapnya.
Ia mendorong pemerintah desa berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan Provinsi NTB untuk mengidentifikasi, mengkaji, serta melestarikan potensi sejarah tersebut.
Kepala Desa Tanah Beak, Ahmad Usman, mengatakan Festival Mobok Balang telah memasuki penyelenggaraan tahun keempat. Selain menjadi ruang pelestarian tradisi, kegiatan tersebut dinilai memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan menengah.
“Alhamdulillah, kegiatan ini sudah berjalan empat tahun dan sangat membantu masyarakat kami, terutama para UKM yang ada di Desa Tanah Beak,” katanya.
Ahmad menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, perangkat daerah, serta pihak swasta yang mendukung pelaksanaan festival.
Telkomsel NTB turut memberikan dukungan melalui pembagian kartu kepada masyarakat Desa Tanah Beak dan bantuan CSR sebesar Rp20 juta bagi para pedagang yang terlibat dalam kegiatan.
Festival Mobok Balang tahun ini diikuti lebih dari 200 peserta. Setelah kegiatan utama pada Sabtu malam, rangkaian acara dilanjutkan dengan jalan sehat pada Minggu pagi.
Bagi masyarakat Tanah Beak, Mobok Balang menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, melestarikan tradisi sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Di akhir sambutannya, Gubernur Iqbal juga mengapresiasi sajian kuliner yang disiapkan masyarakat setempat.
“Bukan hanya karena makanannya enak, tetapi karena dimasak dengan cinta oleh masyarakat Tanah Beak,” ujarnya.
Festival kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Mobok Balang yang diikuti lebih dari 200 peserta dengan membawa obor. Tradisi tersebut menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan sekaligus momentum untuk memperkuat kebersamaan masyarakat Tanah Beak. (r/ham)

