Mataram (Suara NTB) – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram segera berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I terkait perbaikan atau pembangunan kembali bronjong Sungai Ancar yang rusak diterjang banjir pada 6 Juli 2025 lalu di daerah aliran sungai (DAS) Lingkungan Karang Monjok, Kelurahan Mataram Timur, Kecamatan Mataram.
Langkah tersebut dilakukan menyusul keluhan masyarakat setempat yang hingga lebih dari setahun pascabanjir belum melihat adanya perbaikan pada bronjong yang rusak. Kondisi itu membuat warga khawatir, terutama ketika memasuki musim hujan dan debit Sungai Ancar kembali meningkat.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, mengakui perbaikan bronjong di kawasan tersebut belum dilakukan. Pihaknya akan segera berkoordinasi dengan BBWS Nusa Tenggara I agar kerusakan tersebut dapat ditindaklanjuti.
“Coba kita koordinasikan. Mudah-mudahan bisa langsung diintervensi BWS,” ujar Lale, Jumat (21/8).
Ia menjelaskan, BBWS Nusa Tenggara I saat ini masih mengerjakan pembangunan bronjong di sejumlah titik di sepanjang Sungai Ancar. Karena itu, kerusakan bronjong di Karang Monjok akan dilaporkan agar dapat menjadi bagian dari penanganan selanjutnya.
Terkait kemungkinan pekerjaan tersebut dapat direalisasikan tahun ini, Lale mengatakan pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan BBWS agar titik di Karang Monjok dapat diprioritaskan.
“Ini masih proses pengerjaan di tempat lain, makanya nanti saya koordinasi lagi,” jelasnya.
Menurut Lale, pengerjaan bronjong dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu pekerjaan yang sedang berlangsung. BBWS menyelesaikan satu titik terlebih dahulu sebelum beralih ke titik lainnya, termasuk di Karang Monjok.
Ia menambahkan, pembagian penanganan tersebut juga diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan antara BBWS Nusa Tenggara I dan Dinas PUPR Kota Mataram.
Sementara itu, terkait laporan dari pemerintah kelurahan maupun kecamatan mengenai kerusakan bronjong akibat banjir, Lale mengatakan hingga saat ini belum menerima laporan resmi. Hal tersebut juga berlaku untuk kerusakan bronjong di Karang Monjok yang telah berlangsung lebih dari setahun.
Sebelumnya, Pemkot Mataram mulai melakukan rekonstruksi terhadap sejumlah bronjong yang amblas akibat banjir. Penanganan difokuskan pada titik-titik yang dinilai rawan longsor dan abrasi untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar saat debit sungai meningkat.
Rekonstruksi dilakukan di sejumlah titik, antara lain di Lingkungan Karang Kemong, Kelurahan Cakranegara Barat, dan Lingkungan Karang Sukun, Kelurahan Mataram Timur, terutama di sepanjang aliran Sungai Ancar yang kerap meluap saat musim hujan.
Selain itu, Pemkot Mataram telah mengusulkan pembangunan dan peninggian talud serta pemasangan bronjong di sejumlah titik Sungai Ancar dan Sungai Unus kepada BBWS Nusa Tenggara I. Pekerjaan tersebut direncanakan mulai dikerjakan pada 2026 dengan alokasi anggaran sekitar Rp25 miliar. (pan)


