BerandaHEADLINEKerugian Kebakaran Kampung Adat Sade Ditaksir Capai Rp33 Miliar

Kerugian Kebakaran Kampung Adat Sade Ditaksir Capai Rp33 Miliar

- Advertisement -

Praya (Suara NTB) – Kasus kebakaran yang menimpa kampung adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) disebut menyebabkan kerugian materi yang tidak sedikit. Jika dikonversi dengan tingkat kerusakan yang terjadi, kerugian materi akibat kebakaran tersebut ditaksir mencapai Rp33 miliar lebih.

Demikian diungkapkan Kepala Desa (Kades) Rembitan, Lalu Minakse, saat dikonfirmasi Suara NTB, di kampung adat Sade, Senin (24/8/2026) kemarin.

Ia mengatakan, estimasi tersebut berdasarkan tingkat kerusakan yang terjadi. Di mana dari hitungan sementara pihaknya total ada 75 rumah adat yang habis rata dengan tanah. Termasuk berbagai fasilitas yang ada di dalamnya. Belum lagi kerusakan fasilitas umum seperti berugak hingga bangunan masjid setempat.

Di luar rumah adat yang rusak total ada sekitar 20 rumah permanen yang berdekatan dengan lokasi kejadian yang juga ikut rusak dengan tingkat kerusakan antara 20-30 persen. Jadi tidak sampai mengalami kerusakan parah.

“Kampung adat Sade itu terbagi dalam tiga wilayah. Sade Satu tempat rumah adat. Kemudian Sade Lauq dan Sade Daye. Di situ ada rumah permenanen milik warga yang juga ikut terdampak,” sebutnya.      

Minakse mengatakan, untuk membangun satu rumah adat saja estimasi kebutuhanya sekitar Rp250 juta. Itu sudah termasuk perlengkapan dapur dan perlengkapan lainnya. Di mana saat kebakaran, hampir semuanya ikut terbakar. Nyaris tidak ada yang bisa diselamatkan oleh warga.

Mengingat, saat kejadian fokus warga ialah bagaimana menyelamatkan diri dan keluarga. Sehingga tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan barang-barang berharga yang ada di dalam rumah. Memang material bangunannya cukup simpel. Namun saat ini cukup sulit diperoleh. Kalaupun ada, harganya lumayan mahal.

Kerugian Nonmateril Kebakaran Kampung Adat Sade Tidak Bisa Dinilai

“Tapi kalau bicara kerugian nonmateril jelas tidak akan bisa dinilai. Karena ada nilai histori yang tidak bisa diukur dengan materi. Dengan rusak dan hilang, berbagai benda warisan budaya yang tidak ternilai harganya,” ujarnya.

Disingggung kondisi warga terdampak kebakaran, Minakse mengaku secara fisik dalam kondisi sehat. Begitu juga secara mental. Warga yang kini banyak tinggal sementara di rumah-rumah keluarganya tampak sudah ikhlas dengan kejadian yang menimpanya.

“Tadi malam saya sempat keliling mengunjungi warga yang terdampak. Alhamdulillah sudah bisa tidur nyenyak. Itu artinya warga sudah ikhlas atas musibah yang terjadi,” imbuh Minakse.

Warga berharap kepada pemerintah daerah supaya rumah-rumah mereka bisa segera dibangunkan kembali dengan bentuk dan bahan yang sama. Karena selain merupakan mata pencarian, rumah-rumah adat tersebut sekaligus menjadi kebanggaan warga dan masyarakat di daerah ini. Tidak hanya Loteng, tetapi juga NTB secara lebih luas. (kir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN











VIDEO