Mataram (Suara NTB) – Penayangan gala premier film Bapakmu Kiper di Studio 1 XXI Lombok Epicentrum Mall (LEM), Jumat malam (28/8/2026) dipenuhi suasana hangat hingga gelak tawa. Film yang terang-terangan memperlihatkan kehidupan sepak bola tarkam khas Indonesia itu memantik antusias dari penonton yang hadir.
Perpaduan genre komedi-drama membuat penonton sulit menahan tawa sekaligus dibuat sibuk mengusap air mata. Selain genre, daya tarik utama film ini adalah kedekatan kisahnya dengan masyarakat. Film produksi Entelkey Sinema Indonesia (ESI) tersebut mengangkat kisah sepak bola kampung.
Garnet Geraldine selalu Direktur Utama ESI sekaligus Eksekutif Produser Bapakmu Kiper, mengatakan, pemilihan tema sepak bola bukan tanpa alasan.
Indonesia, menurutnya, memiliki basis penggemar sepak bola yang sangat besar. Namun, budaya sepak bola khas Indonesia, yakni tarkam belum banyak diangkat ke layar lebar.
“Indonesia adalah negara keempat di dunia yang mempunyai fanbase sepak bola sangat besar. Namun, sepak bola tarkam masih kurang direpresentasikan dalam perfilman Indonesia. Karena itu, kami ingin membuat film yang sangat relatable dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Garnet menjelaskan, keberadaan pemain lokal seperti King Polo dan Agen Agung menjadi bagian penting dalam menghadirkan warna sepak bola tarkam yang khas. Mereka bukan sekadar pemain dalam film, tetapi juga membawa pengalaman dan karakter khas lapangan sepak bola kampung ke dalam cerita.
Agen Agung mengaku mendapat pengalaman luar biasa ketika dipercaya ambil bagian dalam film tersebut. Ia bahkan harus menjalani proses syuting dengan jadwal yang sangat padat, dari pagi hingga malam.
“Awalnya saya pikir menjadi artis itu mudah. Ternyata luar biasa. Mereka bekerja totalitas dari pagi sampai malam, harus standby di lapangan maupun lokasi lainnya. Itu pengalaman yang sangat luar biasa,” katanya.
Sementara itu, aktor Ali Fikry mengaku langsung tertarik ketika pertama kali ditawari bermain dalam Bapakmu Kiper. Selain menjadi pengalaman pertamanya membintangi film bertema olahraga, cerita film tersebut dinilai memiliki persoalan yang dekat dengan kehidupan.
“Ceritanya bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga drama hubungan ayah dan anak. Ada seorang anak yang berusaha mengejar mimpi, tetapi ternyata halangannya bukan kemampuan bermain bola atau masalah ekonomi, melainkan orang terdekat yang justru menghalanginya meraih mimpi,” tutur Ali.
Bermain bersama Fedi Nuril juga menjadi pengalaman berharga bagi Ali. Keduanya telah beberapa kali beradu akting sehingga proses membangun chemistry berlangsung relatif mudah. Mereka bahkan banyak berdiskusi dan membedah naskah bersama sebelum menjalani proses syuting.
Tantangan berbeda dirasakan ketika Ali harus bermain bersama para pemain tarkam asli. Ia menyadari bahwa bermain sepak bola untuk kebutuhan film tidak sesederhana pertandingan biasa karena harus memperhatikan blocking, dialog, hingga kebutuhan kamera.
Fedi Nuril pun memiliki cerita tersendiri. Pemeran utama tersebut mengaku sempat mengalami cedera pada bagian jempol ketika harus berhadapan langsung dengan King Polo dalam sebuah adegan.
“Jempol saya dibuat keseleo sama tendangannya King Polo. Kencang sekali. Padahal sudah pakai sarung tangan dan tendangannya dari luar kotak penalti. Kamera belum cut, jadi tetap saya tahan. Setelah cut, baru terasa,” ujar Fedi disambut tawa penonton.
Menurut Fedi, Bapakmu Kiper menawarkan sesuatu yang berbeda bagi penonton Indonesia. Sepak bola tarkam tidak hanya menjadi latar cerita, tetapi juga memperlihatkan kultur yang berbeda dari sepak bola profesional.
“Sepak bola tarkam ini punya penggemar dan komunitas sendiri. Ditambah komedi serta drama ayah dan anak, buat saya ini film paket lengkap,” katanya.
King Polo, sosok yang dikenal sebagai pemain tarkam asal Lombok, juga mengaku mendapat pengalaman baru selama menjalani proses syuting. Ia bahkan dibuat kagum dengan totalitas para aktor profesional.
“Menjadi artis ini sangat berat. Ternyata artis-artis kita luar biasa. Mereka bekerja dari pagi sampai pagi. Saya salut dengan Bang Fedi Nuril,” ucapnya.
Gala premier di Lombok pun menjadi momentum istimewa karena film tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa kultur sepak bola masyarakat ke layar lebar.
Kehadiran pemain tarkam lokal bersama para aktor profesional membuat film “Bapakmu Kiper” terasa lebih dekat dengan penonton. Film ini dijadwalkan tayang secara luas pada 3 September mendatang.
Masyarakat Lombok dan pencinta sepak bola diharapkan tidak melewatkan kisah yang memadukan sepak bola tarkam, komedi, persahabatan, serta perjuangan seorang anak mengejar mimpi di tengah dinamika keluarga. (sib)


