Selong (Suara NTB) – Angka pengangguran terbuka di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) masih mencapai sekitar 31 ribu orang. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur pun terus mendorong program pelatihan vokasi dan produktivitas sebagai salah satu upaya menekan angka pengangguran.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lombok Timur, Muhammad Irham Jayadi mengatakan, tingkat pengangguran terbuka di Lotim berada di angka 2,82 persen atau sekitar 31.030 orang. Menurutnya, pemerintah melakukan intervensi melalui berbagai program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat.
Untuk program yang bersumber dari APBN, sasaran pelatihan mencapai sekitar 800 orang. Sementara melalui APBD, terdapat 320 orang yang menjadi sasaran pelatihan vokasi dan produktivitas.
“Kita berharap intervensi pemerintah ini bisa mengurangi angka pengangguran terbuka. Pemerintah memberikan alat dan ilmu, sehingga pola seperti ini efektif untuk menekan pengangguran,” ujarnya.
Ia menegaskan, pihaknya kini tidak lagi hanya berfokus pada pelaksanaan pelatihan. Peserta yang telah menyelesaikan pelatihan juga akan dipantau untuk mengetahui perkembangan mereka setelah mengikuti program.
“Setelah kami evaluasi, dari pusat juga menginginkan adanya feedback (umpan balik). Tidak hanya melatih, tetapi kita evaluasi sampai tempat dia berusaha,” katanya.
Data peserta pascapelatihan, lanjut Irham, terus dikumpulkan oleh Disnakertrans. Peserta diminta melaporkan aktivitas mereka setelah mengikuti pelatihan, baik bekerja di perusahaan, membuka usaha sendiri, maupun menjalankan aktivitas produktif lainnya.
“Jadi mau tidak mau kami harus efektif. Bukan hanya melatih, tetapi kami harus monitoring sampai kita pastikan dia sudah berusaha atau bekerja di mana,” tegasnya.
Selain pelatihan awal, pemerintah juga mendorong masyarakat mengikuti program reskilling dan upskilling. Reskilling ditujukan bagi masyarakat yang ingin mempelajari keterampilan baru, sedangkan upskilling diarahkan untuk meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki ke tingkat yang lebih tinggi.
“Reskilling itu mengulang pelatihan atau mengambil keterampilan baru. Misalnya sekarang pelatihan komputer, kemudian tata boga. Memang tidak cukup hanya satu keterampilan,” jelas Irham.
Sementara upskilling, menurutnya, dapat dilakukan dengan meningkatkan kemampuan dari tingkat dasar ke tingkat berikutnya. Contohnya, peserta yang telah mengikuti pelatihan komputer tingkat dasar dapat melanjutkan ke level dua dan tiga.
Ia mengatakan masyarakat kini memiliki kesempatan lebih luas untuk mengakses berbagai informasi pelatihan dan peluang kerja melalui platform digital yang disediakan pemerintah.
Selain informasi pelatihan, masyarakat juga dapat memanfaatkan portal resmi pemerintah untuk mencari informasi lowongan kerja, termasuk peluang kerja di luar negeri. Platform tersebut juga menyediakan informasi terkait perusahaan atau pemberi kerja yang legal maupun yang bermasalah.
“Kita bisa melihat lowongan kerja di seluruh dunia. Tinggal memilih negara mana dan jabatan apa. Nanti perusahaan yang akan memberikan feedback melalui portal tersebut,” katanya.
Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin meminta program pelatihan vokasi dan produktivitas diperluas agar semakin banyak masyarakat, khususnya pemuda yang belum memiliki pekerjaan, memperoleh keterampilan.
Ia meminta Disnakertrans menyasar masyarakat hingga ke tingkat desa, terutama mereka yang belum memiliki keterampilan kerja.
“Datangkan masyarakat yang ada di desa, terutama yang belum punya keterampilan. Dalam anggaran pendidikan dimasukkan lebih banyak, supaya mereka yang menganggur sekarang ini kalau sudah punya ilmu, minimal ada dasar untuk mencari kerja,” kata H. Iron, sapaan akrab Bupati Lotim.
Menurutnya, masyarakat yang memiliki keterampilan akan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan maupun membuka usaha dibandingkan mereka yang mencari kerja tanpa bekal kemampuan.
“Kita ingin melatih sebanyak-banyaknya masyarakat, pemuda-pemuda kita yang menganggur, untuk diberikan keterampilan,” pungkas Bupati. (rus)



