BerandaHEADLINEMitigasi Bencana di Destinasi Budaya, Museum NTB Gelar Simulasi Kebakaran

Mitigasi Bencana di Destinasi Budaya, Museum NTB Gelar Simulasi Kebakaran

Mataram (Suara NTB) – Museum Negeri NTB menyelenggarakan kegiatan simulasi kebakaran pada Selasa (2/6/2026) di areal museum. Kegiatan ini merupakan upaya mitigasi bencana di pusat kebudayaan sekaligus meminimalisasi risiko kerusakan aset budaya akibat bencana seperti kebakaran.


Adapun dalam kegiatan ini, Museum NTB menggandeng institusi terkait seperti BPBD NTB dan Satuan Pemadam Kebakaran (Damkar) Lombok Barat.


Dari pantauan, para peserta simulasi diberikan materi dasar tentang upaya penanganan bencana kebakaran skala kecil. Kemudian, peserta lanjut mensimulasikan materi yang telah diberikan secara langsung.


Kepala Museum NTB, Dr. Ahmad Nuralam, SH., M.H., mengatakan kegiatan simulasi kebakaran tersebut merupakan bentuk antisipasi pihaknya terhadap potensi bencana hidrometeorologi dan bencana non-alam. Menurutnya, perlu langkah preventif yang jelas dan komprehensif untuk meminimalisasi potensi bencana.


“Kita tidak bisa berpuas hanya di satu proses saja, tapi harus kita ulang. Karena yang namanya kebakaran ini ketika terjadi, nggak akan ada penggantinya. Jadi barang yang rusak, yang hancur, ya sudah selesai dia. Tinggal cerita dan foto saja yang ada. Sehingga kesalahan itu harus dinolkan,” ujarnya, Selasa (2/6).


Peristiwa kebakaran yang melanda salah satu bangunan adat bersejarah di kawasan Bayan, Kabupaten Lombok Utara menjadi peringatan serius agar kejadian serupa tak terjadi. Karena itu, sikap siap siaga dan kewaspadaan perlu ditanamkan untuk meminimalisasi potensi bencana.


“Nah, kesiapsiagaan, kewaspadaan itu harus menjadi prioritas. Karena benda-benda ini adalah warisan kebudayaan, warisan sejarah yang memang tidak bisa diduplikasi, tidak bisa diganti, dan ketika hilang, rusak, terbakar itu, ya sudah hilang juga,” jelas Nuralam.


Kegiatan simulasi kebakaran ini memang menjadi program rutin Museum NTB. Namun demikian, simulasi tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan itu terletak pada aspek kolaborasi dan sinergitas pelaksanaan. Tahun ini, Museum NTB turut menggandeng instansi yang bernaung di bawah Dinas Kebudayaan (Disbud) NTB, salah satunya Taman Budaya NTB.


“Jadi, risiko destinasi kebudayaan itu juga harus menjadi prioritas. Nah, itu yang disampaikan Pak Kadis. Sehingga mungkin ini akan bergerak kita ke daerah-daerah lain, sehingga semua objek budaya, objek kebudayaan kita, itu minimal dia punya APAR. Jadi ketika terjadi accident (peristiwa), itu sudah langsung bisa ditangani,” ujarnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) NTB, Muhamad Ihwan menuturkan, kegiatan simulasi kebakaran di destinasi kebudayaan seperti museum bersifat penting. Mengingat, museum merupakan episentrum aset kebudayaan daerah yang memiliki nilai historis perlu memiliki kesiapan dalam menghadapi potensi bencana.

Selain aset, keselamatan pengunjung juga menjadi alasan kenapa upaya preventif seperti simulasi ini menjadi penting dilakukan.


“Maka, bagaimana ketika terjadi kebakaran, apa yang harus dilakukan oleh petugas yang ada maupun oleh pengunjung ketika terjadi kebakaran itu. Tidak hanya melindungi benda-bendanya, kemudian juga melindungi pekerja, kemudian pengunjung yang datang ke Museum Nusa Tenggara Barat,” jelasnya.


Menurut Ihwan, kegiatan serupa juga mesti dilakukan oleh pusat-pusat kebudayaan lain di NTB. Mengingat, potensi bencana bisa saja terjadi kapan saja dan dimana saja. Terlebih, peristiwa kebakaran yang menghanguskan aset kebudayaan di Bayan perlu menjadi atensi bersama.


“Maka alangkah baiknya masyarakat yang ada di situ, pelaku adat, pelaku budaya, seniman, itu diajarkan bagaimana preventif dulu. Tapi kalau sudah terjadi, bagaimana mengatasinya, kemudian, kalau sudah selesai, bagaimana melakukan rehabilitasi, rekonstruksi terhadap gedung

-gedung atau daerah-daerah itu,” jelas Ihwan.


Selain kemampuan menghadapi bencana, fasilitas keamanan juga menjadi hal yang penting dimiliki setiap pusat kebudayaan di NTB.


Ihwan berpendapat, belum semua destinasi kebudayaan memiliki fasilitas keamanan yang memadai. Karena itu, ia mendorong agar semua pusat kebudayaan di NTB memiliki alat-alat keamanan seperti Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan hidran.


“Karena sekarang mereka melakukan penyelamatan terhadap fisik budayanya saja, fisik benda-benda itu. Nah, tingkatan berikutnya dengan yang dimulai oleh teman-teman di museum ini, kita akan menyebarkan ‘virus’ (simulasi bencana) ini lagi. Supaya kegiatan positif ini diikuti (pusat kebudayaan lain),” pungkasnya. (sib)

IKLAN

spot_img
Artikulli paraprak
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO