Mataram (Suara NTB) – Wali Kota Mataram, Dr. H. Mohan Roliskana, menegaskan bahwa pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kota Mataram dilakukan secara transparan. Ia juga mengajak masyarakat untuk turut mengawasi seluruh proses penerimaan agar berjalan sesuai ketentuan dan bebas dari praktik yang merugikan.
“Kami ingin semua proses berjalan dengan baik tanpa ada permainan. Karena itu, masyarakat juga kami harapkan ikut melakukan pengawasan,” ujar Mohan, Senin (29/6).
Menurutnya, Pemerintah Kota Mataram terus melakukan pembenahan dan evaluasi terhadap pelaksanaan SPMB setiap tahun. Berbagai masukan dan rekomendasi dari pihak-pihak yang selama ini mengawasi proses penerimaan murid baru menjadi bahan perbaikan agar pelaksanaan semakin baik.
“Kami berusaha mengakomodasi setiap masukan dan pandangan dari berbagai pihak yang mengawasi proses SPMB ini,” katanya.
Mohan menilai Dinas Pendidikan Kota Mataram juga terus melakukan pembenahan agar proses penerimaan peserta didik baru tidak menimbulkan kesan negatif di tengah masyarakat, khususnya para orang tua atau wali murid.
Karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk memastikan seluruh prosedur SPMB dilaksanakan secara terbuka dan sesuai aturan yang berlaku.
Ia menjelaskan, sistem SPMB saat ini telah memanfaatkan teknologi sehingga proses seleksi dapat diakses masyarakat. Salah satunya pada jalur domisili yang menggunakan data berbasis Google Maps untuk mengukur jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan sekolah tujuan.
“Sekarang sistem yang bekerja. Tidak lagi dibangun persepsi. Semuanya sudah jelas dan tegas. Masyarakat juga bisa mengetahui posisi tempat tinggalnya serta radiusnya terhadap sekolah,” jelasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Mataram juga terus berupaya melakukan pemerataan kualitas pendidikan melalui peningkatan infrastruktur dan distribusi tenaga pendidik di setiap sekolah. Langkah tersebut dilakukan agar tidak lagi muncul anggapan adanya sekolah favorit dan sekolah nonfavorit.
Meski demikian, Mohan mengakui pelabelan sekolah favorit masih melekat di tengah masyarakat. Kondisi itu menyebabkan banyak calon peserta didik berlomba-lomba mendaftar ke sekolah tertentu yang dianggap lebih unggul.
Padahal, menurutnya, kualitas pendidikan di Kota Mataram sudah relatif merata. Bahkan, pembangunan sekolah telah menjangkau kawasan permukiman sehingga akses pendidikan bagi masyarakat semakin mudah.
Orang nomor satu di Kota Mataram itu berharap masyarakat tidak lagi menjadikan stigma sekolah favorit sebagai alasan untuk memaksakan anak bersekolah di tempat tertentu.
“Kota Mataram tidak terlalu luas jika berbicara soal jarak. Dari sisi kualitas pendidikan juga sudah cukup merata. Karena itu, saya berharap stigma sekolah favorit dan nonfavorit ini perlahan bisa dihilangkan,” pungkasnya. (pan)

